Alexander Shumsky, Presiden Russian Fashion Council dan Mercedes-Benz Fashion Week Russia, mengatakan, tujuan dari Global Talents Digital yang kedua ini untuk memperkenalkan konsep keberlanjutan kepada pelaku industri fesyen, penonton, dan pelaku industri lainnya. Melalui video yang ditampilkan, masyarakat dapat mengetahui bagaimana proses yang dilakukan desainer baru untuk menghasilkan sebuah karya yang baik.
“Sustainability adalah kata yang tertanam kuat pada banyak karya dari perusahaan dan label fesyen, tetapi masih banyak yang belum mengetahui proses dan pengembangannya. Oleh karena itu, kami mengusung tema sustainability agar dapat menyajikan banyak informasi terkait hal tersebut,” katanya.
Anggiasari, pemilik brand modest fashion bernama AM by Anggiasari, membawa konsep keberlanjutan dengan melakukan daur ulang di desain pakaiannya. Denim garmen yang reject, cacat, dan over stock dari industri lokal digunakan Anggi untuk menghasilkan sebuah karya yang menarik. Dalam hal ini, Anggi juga mengombinasikan bahan tekstil yang ramah lingkungan.
“Jadi, produk denim yang dianggap cacat dan tidak laku di pasaran kami daur ulang lalu dikombinasikan dengan kain tenun tradisional. Dalam hal ini, kami menggunakan tenun bedog,” ujar Anggi.
Sementara itu, Emmy Thee menghadirkan koleksi busana menggunakan potongan kain persegi yang sama agar menghasilkan zero waste pattern. Ia juga menggunakan kain wastra karya artisan lokal sebagai upaya memelihara budaya dan kelangsungan karya lokal sehingga dapat berkelanjutan. Untuk pewarnaannya, ia menggunakan bahan alami agar lebih ramah lingkungan.
“Saya memperkenalkan konsep upcycle. Misal, dia beli rok, setelah bosan, dia dapat mengembalikannya pada kami dan bisa kami ubah jadi outerwear. Kalau bosan lagi, dia bisa kirim kembali, kami ubah jadi dress. Dengan cara ini bisa meniminalisir penggunaan bahan,” jelas Emmy.






