Jakarta, Venuemagz.com – Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) bersama Dyandra Promosindo kembali menggelar International Franchise, License and Business Concept Expo & Conference (IFRA) untuk ke-25 kalinya. Pameran kemitraan dan bisnis ini akan berlangsung pada 28–30 Agustus 2026 di Hall 7, Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang.
Penyelenggaraan IFRA tahun ini sebagai bentuk respons dinamika pasar kemitraan yang terus bergerak. Kemitraan mencakup ragam skema kerja sama usaha, mulai dari distribusi, lisensi, hingga business opportunity, dengan tingkat kompleksitas dan legalitas yang berbeda-beda.
Hal ini sejalan dengan tema yang diusung IFRA edisi ke-25 yaitu “Empowering the Growth of Ethical Franchising“. Penekanannya ada pada standarisasi usaha yang aman, legal, dan transparan, dengan harapan ekosistem bisnis kemitraan semakin akuntabel dan turut mengakselerasi pertumbuhan UMKM nasional.
“Kami selalu berkomitmen menghadirkan pameran yang relevansinya untuk kebutuhan pasar dan perkembangan zaman. Kami percaya, saat ini franchise atau waralaba ini masih relevan untuk masa-masa mendatang karena mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan mengembangkan jaringan usaha lebih tanggung serta kompetitif,” jelas Daswar Marpaung, Presiden Direktur Dyandra Promosindo, saat Konferensi Pers di Jakarta pada 20 Agustus 2026.

Unik dan Sistem yang Kuat
Untuk menghadirkan bisnis franchise atau waralaba, para pemilik diwajibkan memiliki Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) sebagai indikator keabsahan. Artinya, tidak semua kemitraan bisa disebut franchise.
Data Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (Kemendag RI) mencatat sampai April 2026 ada 165 STPW Pemberi Waralaba Dalam Negeri dan 162 Pemberi Waralaba Luar Negeri yang telah diterbitkan. jumlah tersebut terus bertambah seiring makin banyaknya pelaku usaha yang mengedepankan legalitas.
Membangun bisnis waralaba juga membutuhkan sistem yang kuat dan juga keunikan tersendiri. Apalagi, di sektor kuliner yang memiliki potensi waralaba terbesar di Indonesia. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Anang Sukandar selaku Ketua Umum AFI pada kesempatan yang sama.
“Indonesia punya banyak jenis masakan dan kekayaan kuliner yang masih bisa dikembangkan menjadi usaha. Sangat disayangkan kalau usaha-usaha ini dibangun asal-asalan tanpa sistem yang kuat. Padahal, setiap negara sektor F&B berkontribusi sekitar 50 sampai 55 persen terhadap ekonominya,” ujar Anang.
Oleh sebabnya, ia meminta agar pemilik waralaba memiliki konsep pemasaran yang jelas dengan strategi perluasan usahanya. Beberapa strateginya adalah dengan memiliki format bisnis dan sistem usaha yang jelas di dalamnya.
“Jadi, kalau mau bicara kemitraan harus ada keunggulan dan keunikan yang tidak mudah ditiru orang lain. Saya percaya Indonesia berpeluang besar untuk mengembangkan ini, tapi tentu butuh dukungan dari semua pihak,” ucap Anang lagi.
Dukungan Pemerintah
Setiap perjalanannya, IFRA selalu mendapat dukungan penuh dari pemerintah seperti Kementerian Perdagangan. Direktur Bina Usaha Perdagangan Kemendag RI, Franciska Simanjuntak, mengatakan bahwa dukungan ini diberikan mengingat sektor kewirausahaan dan kemitraan menjadi salah satu penggerak penting pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kami menyambut baik penyelenggaraan IFRA 2026 sebagai upaya mendorong pertumbuhan kewirausahaan nasional, yang rasionya saat ini baru 3,29 persen dan masih tertinggal dari negara tetangga,” ungkap Franciska.

Franciska menjelaskan bahwa sistem waralaba menjadi salah satu jalur strategis karena menawarkan model bisnis yang siap pakai dan terstandarisasi. Oleh sebabnya, Kemendag telah menargetkan pertumbuhan waralaba lokal dapat mencapai hingga 7 persen pada tahun ini.
“Melalui berbagai program seperti Campuspreneur, kami terus mendorong lahirnya wirausaha-wirausaha baru yang mendukung ekosistem kemitraan bisnis yang legal dan akuntabel, sejalan dengan semangat IFRA 2026,” tambah Franciska.
Ratusan Merek Waralaba Lokal dan Internasional
Melihat potensi bisnis tersebut, IFRA 2026 akan hadir dengan skala lebih besar untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat terhadap bisnis kemitraan dan waralaba di Indonesia. Pihak penyelenggara memastikan pameran tahun ini hadir dengan cakupan peserta dan pengunjung lebih luas dibandingkan edisi-edisi sebelumnya.

Daswar mengatakan akan ada 250 merek unggulan dari 175 perusahaan lokal maupun internasional. Dengan target pengunjung mencapai 30.000 secara keseluruhan baik offline maupun online. IFRA secara online dapat diakses melalui www.ifra-indonesia.com sejak Agustus hingga Desember 2026 selama 24 jam.
“Dengan skala tersebut, kami berharap IFRA dapat menjadi ruang temu yang strategis bagi pelaku usaha, pemilik brand, dan calon mitra untuk saling mengenal model bisnis masing-masing, sebelum memutuskan untuk menjalin kerja sama,” tutup Daswar.
Bagi yang tertarik berkunjung langsung ke IFRA, dapat membeli tiket seharga Rp60.000 per orang. Tiket sudah dapat dipesan lebih awal melalui www.ifra-indonesia.com atau di lokasi acara saat pameran berlangsung.
Khusus pemesanan tiket secara online hingga 27 Agustus 2026, dapat menikmati promo terbaik berupa buy 1 get 1. Informasi terbaru seputar IFRA 2026 dapat dipantau melalui Instagram @ifra_expo dan situs www.ifra-indonesia.com.








