Indonesia Berpeluang Meningkatkan Ekspor Teh di Tengah Perang Dagang AS-China

Thursday, 20 June 19 Herry Drajat

Indonesia berpartisipasi dalam World Tea Expo (WTE) 2019 yang berlangsung pada tanggal 11 hingga 13 Juni 2019 di Las Vegas, Amerika Serikat (AS). Paviliun Indonesia menampilkan tujuh perusahaan, antara lain Harendong Tea Estate, PT Bukit Sari, PT Kepala Djenggot, Mustika Ratu, dan Rowadu untuk kategori produk teh dan minuman herbal, serta Jans Food dan Ladang Lima untuk kategori di luar teh.

Paviliun Indonesia mendapatkan lokasi strategis, yaitu di depan pintu masuk pameran. Hal ini memberikan keuntungan tersendiri, yaitu bisa mendapatkan eksposur yang tinggi terhadap para pembeli.

Pada pameran yang diikuti 260 peserta dari 22 negara dan dihadiri 100.000 buyer ini, Indonesia meraih potensi transaksi sebesar US$529.000 dan diprediksi akan meningkat. Hal ini disampaikan oleh Antonius Budiman, Kepala Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Los Angeles.

Indonesia berada di peringkat ke-12 pemasok teh dengan nilai ekspor US$7,1 juta yang terbagi menjadi ekspor teh hitam senilai US$5,1 juta dan US$2 juta untuk teh hijau. Pasar teh paling besar di AS adalah teh hitam dan teh fermentasi yang merupakan bahan pembuatan teh kombucha.

Berdasarkan data Departemen Perdagangan Amerika Serikat, total nilai impor produk teh AS dari seluruh dunia pada 2018 tercatat sebesar US$467 juta, dengan rincian nilai impor teh hitam US$302,4 juta dan teh hijau US$165,3 juta.

Total impor teh AS dari China tertinggi di antara negara-negara lain, yaitu sebesar US$89,9 juta. Impor teh hijau AS dari China senilai US$48,1 juta dan impor teh hitam yang telah difermentasi tercatat sebesar US$41,8 juta.

Adanya perang dagang AS-China merupakan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor teh ke Amerika. Menurut Anton, “Perang dagang AS-China merupakan momentum yang memberikan peluang lebih besar bagi para produsen teh seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hal ini dikarenakan teh hijau dan teh hitam China dengan kemasan di bawah 3 kg kemungkinan besar akan dikenakan tarif 25 persen, sehingga hal tersebut menjadi celah teh Indonesia merebut pangsa pasar teh China yang dikenakan tarif”.

Anton menambahkan, untuk memanfaatkan peluang dari adanya perang dagang AS-China adalah dengan berpartisipasi secara aktif pada pameran dagang, salah satunya adalah pameran World Tea Expo (WTE) 2019.