Indonesia Berpartisipasi Pada World Tea Expo 2019

Wednesday, 19 June 19 Herry Drajat
World Tea Expo 2019

Gaya hidup sehat generasi muda Amerika Serikat saat ini di antaranya adalah mengubah kebiasaan konsumsi minuman soda ke produk teh siap minum. Hal itu menjadikan produk minuman teh berkembang dengan berbagai inovasi, di antaranya blended tea yang menggunakan bunga (bunga telang, mawar, melati, dan lavender) sebagai campuran teh, teh rempah instan dengan berbagai kemasan yang menarik, teh untuk diet keto, chia seeds bubble tea, cider tea, sparkling tea, serta teh rasa buah-buahan tropis seperti sirsak dan kombucha.

Pasar teh paling besar di AS adalah teh hitam dan teh fermentasi yang merupakan bahan pembuatan teh kombucha. Teh kombucha mengalami pertumbuhan pesat sejak 2017 karena dianggap sebagai minuman “elixir of life” yang memberikan manfaat kesehatan untuk sistem  pencernaan dan detoksifikasi.

Berdasarkan data Departemen Perdagangan Amerika Serikat, total nilai impor produk teh AS dari seluruh dunia pada 2018 tercatat sebesar US$467 juta, dengan rincian nilai impor teh hitam US$302,4 juta dan teh hijau US$165,3 juta.

Nilai pasar teh Kombucha diperkirakan mencapai US$556 juta pada 2018. Tingginya nilai impor teh yang telah difermentasi ini sejalan dengan tren minuman teh siap minum di AS, khususnya untuk produksi teh kombucha siap minum.

“Tidak hanya importir daun teh, industri teh siap minum, khususnya Kombucha, di AS juga dapat dibidik sebagai buyer sasaran,” kata Antonius Budiman, Kepala Indonesian Trade  Promotion Center (ITPC) Los Angeles.

Adanya tren perubahan gaya hidup sehat dari kebiasaan minum soda ke produk teh tadi ditambah adanya perang dagang AS-Cina menciptakan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor teh ke AS.

“Perang dagang AS-China merupakan momentum yang memberikan peluang lebih besar bagi para produsen teh seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hal ini dikarenakan teh hijau dan teh hitam China dengan kemasan di bawah 3 kg kemungkinan besar akan dikenakan tarif 25 persen sehingga hal tersebut menjadi celah bagi teh Indonesia merebut pangsa pasar teh China yang dikenakan tarif,” ujar Anton.

Total impor teh AS dari China tertinggi di antara negara-negara lain, yaitu sebesar US$89,9 juta. Impor teh hijau AS dari China senilai US$48,1 juta dan impor teh hitam yang telah difermentasi tercatat sebesar US$41,8 juta. Sementara Indonesia saat berada di peringkat ke-12 pemasok teh dengan nilai ekspor US$7,1 juta yang terbagi menjadi ekspor teh hitam senilai US$5,1 juta dan US$2 juta untuk teh hijau. Peluang untuk meningkatkan ekspor pun masih terbuka lebar.

Salah satu cara untuk menangkap peluang tersebut adalah berpartisipasi pada pameran dagang, salah satunya adalah World Tea Expo (WTE) 2019 yang berlangsung pada 11-13 Juni 2019 di Las Vegas, Amerika Serikat (AS).

Pameran yang diikuti 260 peserta ini terdiri dari eksportir dan label privat yang berasal dari 22 negara, di antaranya Indonesia, China, Sri Lanka, India, Jepang, Taiwan, Inggris, dan Kanada. Pameran ini dihadiri 100.000 buyer yang terdiri atas distributor, peritel, pemilik kedai teh, pemilik restoran, dan pemasok jasa makanan/restoran.  

Pada pameran tersebut Indonesia diwakili oleh tujuh perusahaan, yang terdiri dari lima perusahaan kategori produk teh dan minuman herbal, sedangkan sisanya dari kategori produk makanan ringan. Indonesia meraih potensi transaksi sebesar US$529.000 dan diprediksi akan meningkat.