BerandaEventJatim Fair 2018 Tingkatkan Daya Saing Produk dari Jawa Timur

Jatim Fair 2018 Tingkatkan Daya Saing Produk dari Jawa Timur

Published on

spot_img
spot_img

Jatim Fair 2018, pameran tahunan yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Jadi Provinsi Jawa Timur ke-73, telah digelar di Grand City Mall Surabaya pada 9 sampai 14 Oktober 2018. Penyelenggaraan pameran Jatim Fair 2018 ini diikuti 570 peserta dari UMKM, Dinas Kabupaten Kota, dan Dinas Provinsi.

Pelaksanaan Jatim Fair yang ke-9 kalinya ini menghasilkan transaksi sekitar Rp40 miliar dan jumlah pengunjung mencapai 150.000 orang. Sementara pada pelaksanaan Jatim Fair 2017 yang berlangsung 11 hari, jumlah transaksi mencapai Rp54,3 miliar dengan pengunjung 210.900 orang.

Menurut Ir. Budiono, Direktur Debindo Media Tama, pengurangan jumlah hari pelaksanaan adalah agar pelaksanaan lebih efektif karena banyak peserta mengikuti aktivitas pameran di kota lain, salah satunya adalah keikutsertaan pada pameran Trade Expo Indonesia 2018 di Indonesia Convention Exhibition, BSD, Tangerang, Banten.

BACA JUGA:  Lifechanger Concert, Konser Amal untuk Korban Bencana Alam

“Diharapkan penyelenggaraan Jawa Timur Fair 2018 dapat memberikan manfaat kepada rakyat Jawa Timur, menambah kemakmuran bagi pelaku usaha, serta meningkatkan daya saing produk asal provinsi Jawa Timur,” ujar Enggartiasto Lukita, Menteri Perdagangan Republik Indonesia.

Pemerintah memberikan perhatian khusus pada Provinsi Jawa Timur karena mempunyai kontribusi  yang besar terhadap perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS), dari seluruh ekspor Indonesia yang mencapai US$164,8 miliar, Jawa Timur memberikan kontribusi sebesar 11,90 persen atau sebesar US$19,6 miliar.

BACA JUGA:  1.500 UKM Siap Berpromosi di INACRAFT 2024

Nilai ekspor Provinsi Jawa Timur pada 2017 merupakan terbesar ke-2 setelah provinsi DKI Jakarta. Sementara nilai Produk Domestik Regional Bruto pada 2017 mencapai Rp1.482 triliun atau tumbuh 5,45 persen di atas pertumbuhan nasional yang sebesar 5,07 persen. Pertumbuhan Jawa Timur pada 2017 tersebut, 30,40 persen ditunjang oleh sektor industri dan 20,90 persen ditunjang oleh sektor perdagangan.

Enggartiasto mengingatkan bahwa di era ekonomi digital yang berlangsung cepat, kolaborasi metode  penjualan dalam jaringan (daring) dan penjualan luar jaringan (luring) mutlak diperlukan.

BACA JUGA:  Debindo Sukses Selenggarakan IndoBuildTech Bali 2018

“Ekonomi digital dan modernisasi tidak bisa dihentikan, dialihkan, atau dibatasi. Untuk itu, diperlukan  kolaborasi atau perpaduan antara metode digital dan nondigital. Kolaborasi tersebut sudah mulai terjadi dan dapat kita lihat,” jelas Enggartiasto.

Menurut Mendag, penjualan luring yang dipadukan dengan daring dapat meningkatkan penjualan. “Jika  hanya dilakukan secara luring, maka penjualan malah akan menurun. Kunci utama untuk bertahan adalah bisa menyesuaikan diri dengan gaya hidup yang sedang terjadi di seluruh dunia,” ujar Enggartiasto.

spot_img
spot_img
spot_img

Nongkrong Satu Jam Lebih Lama di Ruang Kreatif 25/7

Jakarta, Venuemagz.com — Dyandra Promosindo menghadirkan sebuah event baru bernama 25/7 (Twenty Five Seven)....

Satu Bulan Merdeka Heritage Festival di Aston Sentul Lake Resort & Conference Center

Sentul, Venuemagz.com – Semangat kemerdekaan terasa lebih panjang dan meriah di Aston Sentul Lake...

APEKSI dan GoVirtual Indonesia Siap Digitalkan 98 Kota di Indonesia

Jakarta, Venuemagz.com — Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) dan PT Teknologi GoVirtual Indonesia...

Pertama Kali Digelar! Bakery ASEAN Siap Boyong Ratusan Brand dan Chef Dunia ke Jakarta 

Jakarta, Venuemagz.com - Untuk pertama kalinya, Bakery ASEAN diselenggarakan di Indonesia tepatnya di Jakarta...