Tiga Strategi Tingkatkan Wisata Kuliner dan Belanja

Thursday, 20 September 18   12 Views   0 Comments   Harry Purnama
Wonderful Indonesia Culinary & Shopping Festival

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, wisatawan mengeluarkan 30-40% dari total pengeluaran mereka untuk wisata kuliner dan belanja. “Wisata kuliner memberikan kontribusi tertinggi bagi PDB (Pajak Domestik Bruto), yaitu 42%. Kedua, fashion 18%, dan ketiga kriya 15% yang masuk dalam kategori belanja,” kata Arief Yahya.

Arief Yahya juga menyampaikan wisata kuliner mempunyai portofolio produk sempurna karena ukurannya besar, sustainability tinggi, dan spread-nya besar. Namun, untuk menarik wisman agar berwisata kuliner dan belanja di Indonesia, ada beberapa hal yang harus diperbaiki. “Wisata kuliner dan belanja untuk wisatawan nusantara tidak ada isu, sedangkan bagi wisman banyak isu yang harus diperbaiki,” kata Arief Yahya.

Arief Yahya didampingi Ketua Umum DPP APPBI (Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia) Stefanus Ridwan dan Ketua Tim Percepatan Wisata Kuliner dan Belanja Kemenpar Vita Datau Messakh menjelaskan, tiga hal yang harus diperbaiki dalam kuliner adalah makanan nasional, destinasi wisata kuliner, dan melakukan co-branding dengan restoran Indonesia di seluruh dunia.

Arief Yahya membandingkan dengan Thailand yang memiliki Tom Yum sebagai makanan nasional, banyak destinasi wisata kuliner, serta 16.000 restoran Thailand tersebar ke seluruh dunia. “Kita menetapkan soto sebagai makanan nasional plus empat makanan lain, yaitu rendang, nasi goreng, sate, dan gado-gado versi Kemenpar. Untuk destinasi kuliner kita telah menetapkan Bali, Bandung, dan Joglosemar (Yogyakarta, Solo, dan Semarang),” kata Arief Yahya.

Lalu, bagaimana dengan penyebaran restoran Indonesia di seluruh dunia? “Kalau mengikuti cara Thailand yang memberikan pinjaman lunak sekitar Rp1,5 miliar per restoran, kita tidak mempunyai anggaran. Sebagai solusinya, kita menggandeng 10 restoran diaspora di mancanegara untuk melakukan co-branding Wonderful Indonesia. Mereka menyajikan makanan nasional seperti soto, rendang, nasi goreng, sate, dan gado-gado,” ujar Arief Yahya.

Sementara itu, Arief Yahya mengatakan bahwa Indonesia hingga kini belum menjadi surga belanja bagi wisman. Hal ini karena terkendala antara lain teknologi dan regulasi, di antaranya penerapan tax refund. “Saya mengusulkan agar memperbanyak factory outlet yang didekatkan dengan kemudahan fasilitas pelayanan tax refund claim,” kata Arief Yahya.

Sebagai perbandingan, Singapura menerapkan kemudahan klaim tax refund sebesar Rp1 juta per kuitansi atau $Sing100 per tiga kuitansi, sedangkan di Indonesia sebesar Rp5 juta per kuitansi.

Ketua Umum DPP APPBI Stefanus Ridwan mengatakan, penyelenggaraan event tahunan Wonderful Indonesia Culinary & Shopping Festival (WICSF) memasuki tahun ke-3 ini  berlangsung dalam satu bulan penuh dari 27 September hingga 27 Oktober 2018.

“Pembukaan Wonderful Indonesia Culinary & Shopping Festival 2018 berlangsung di Bali,” kata Stefanus Ridwan.

Wonderful Indonesia Culinary & Shopping Festival 2018 masuk dalam 100 Calender of Event Kementerian Pariwisata 2018. Pusat perbelanjaan yang ikut berpartisipasi pada Wonderful Indonesia Culinary & Shopping Festival terus meningkat. Pada 2016, acara ini diikuti sebanyak 85 mal, lalu tahun berikutnya 104 mal, dan tahun ini sebanyak 150 mal dengan nilai transaksi yang diproyeksikan sebesar Rp250 triliun. Total Transaksi Wonderful Indonesia Culinary & Shopping Festival 2016 meningkat 40%, tahun 2017 meningkat 60%, dan target 2018 meningkat 80%.