Untuk memberikan koneksi jangka panjang, sebuah event harus berubah: dari transaksional menjadi petualangan imersif.
Bangkok, Venuemagz.com — Wisatawan bisnis, terutama generasi muda, saat ini tidak hanya mencari kesempurnaan, tapi juga pengalaman yang nyata, bermakna, dan autentik sehingga bisa menciptakan koneksi emosional yang lebih lama.
Karenanya, sebuah event di dunia modern ini harus berubah: dari apa yang pengunjung ingin lihat dan dengarkan, menjadi apa yang pengunjung ingin rasakan, sentuh, dan alami bersama. Dengan demikian, sebuah konferensi atau event akan berubah menjadi sebuah petualangan imersif.
“Konferensi modern harus berubah dari format tradisional menjadi memasukkan pengalaman imersif sehingga koneksi bisnis bisa terjadi melalui aktivitas bersama dan petualangan lokal yang autentik,” ujar Supawan Teerarat, Presiden Thailand Convention and Exhibition Bureau (TCEB), saat memberikan sambutan pembukaan IT&CM Asia dan CTW Asia Pasifik 2025 di Bangkok, 23 September 2025.
Supawan menambahkan, ketika ratusan bahkan ribuan delegasi internasional datang untuk mencari pengalaman lokal yang autentik, panitia dapat memberikan sebuah insentif ekonomi untuk menjaga dan merayakan budaya tradisional.
“Budaya lokal tidak hanya menjadi dekorasi atau pemanis sebuah event, melainkan telah menjadi mesin ekonomi utama yang memberikan pengalaman autentik kepada para delegasi internasional,” ujar Supawan.
Apalagi, generasi muda tumbuh di dunia digital yang saling terkoneksi di mana keautentikan merupakan sebuah “mata uang” dan pengalaman autentik telah menjadi kemewahan yang paling hakiki. Karenanya, delegasi MICE modern lebih memilih sebuah aktivitas langsung daripada sebuah kegiatan pasif. Mereka ingin belajar mengenai karya seni, cerita di balik sebuah kuliner, dan menjalin koneksi di tempat yang santai.
“Mereka tidak hanya mendengar penjelasan mengenai kerajinan tradisional, tapi juga belajar membuatnya. Tidak hanya mencoba kuliner lokal, tapi juga mendengar cerita di baliknya,” ujar Supawan. “Inilah cara bagaimana sebuah event akan berubah dari transaksional menjadi transformatif dan menjadi legacy jangka panjang.”
The UNESCO Creative Cities Network (UNCCN) menjadi contoh sempurna untuk mengintegrasikan budaya lokal menjadi pengalaman berharga bagi para pengunjung di segala aspek.
Lebih dari ROI
Masa depan industri MICE tidak hanya mengenai ROI (Return on Investment), tapi juga ROX (Return on Experience) dan ROR (Return on Relationship). Unsur ROX terkait dengan apa yang mereka rasakan dan pengalaman yang dibawa pulang, lebih dari sekadar pengetahuan bisnis.
“ROI menjaga akuntabilitas, sementara ROX memastikan event lebih memorable, dan ROR memastikan sebuah event menjadi sustainable,” ujar Supawan.
Akan tetapi, sebuah event tidak boleh hanya menghasilkan ROI bagi penyelenggara acara, tetapi juga bagi seluruh kota dan komunitas setempat sehingga tercipta sebuah nilai di mana bisnis, masyarakat, dan destinasi mendapat keuntungan bersama.
Darren Ng, Managing Director TTG Asia Media selaku penyelenggara IT&CM Asia dan CTW Asia Pasifik 2025, mengatakan, perhelatan IT&CM Asia dan CTW Asia Pasifik 2025 diikuti lebih dari 270 destinasi dan merek, serta hampir 400 buyer MICE, asosiasi, dan korporat dari lebih dari 50 negara.
Selain itu, acara ini juga dihadiri 590 seller dari sekitar 270 organisasi dan perusahaan. Kemudian, IT&CM Asia dan CTW Asia Pasifik 2025 juga diliput langsung oleh 47 media dari 18 negara dan kawasan.





