Jakarta, Venuemagz.com — Selama beberapa dekade, standar pariwisata global sangat mudah ditebak: arus wisatawan dan pengaruh budaya yang masif bergerak dari Barat ke Timur. Namun, arah tersebut kini berbalik sepenuhnya. Saat ini, denyut nadi industri perjalanan berdetak dari Timur ke Barat.
Hal tersebut disampaikan oleh Gary Bowerman, Co-Founder High-Yield Tourism, dalam acara Travel Meet Asia 2026 yang diadakan di Swissotel Jakarta PIK Avenue, 23-24 Juni 2026.
Menurut Gary, meskipun dekade 2010-an menandai era keemasan dengan pertumbuhan tinggi bagi pariwisata Asia-Pasifik—yang ditandai oleh rekor jumlah kunjungan wisatawan dan lonjakan pendapatan perusahaan—lanskap pasca-pandemi kini terlihat sangat berbeda. Destinasi seperti Indonesia, Jepang, Vietnam, Australia, dan China mulai beralih dari sekadar mengejar volume wisatawan, melainkan tentang keuntungan tinggi (high yield), kualitas tinggi, dan keberlanjutan jangka panjang.
Peralihan Menuju High-Yield & Wisatawan Berulang (Repeat Visitors)
Pada dekade sebelumnya, kesuksesan diukur dari pertumbuhan persentase dua digit. Kini, pemerintah di seluruh wilayah Asia-Pasifik menyadari bahwa model tersebut berisiko menimbulkan kelebihan pariwisata (overtourism) dan gesekan dengan masyarakat setempat. Fokusnya telah beralih untuk mendistribusikan manfaat ekonomi secara lebih merata, terutama dengan memberikan insentif kepada wisatawan berulang atau repeat visitors.
“Jepang pada tahun lalu mencatatkan rekor kunjungan wisatawan internasional, mencapai 43 juta turis. Pada 2030, Jepang menargetkan 60 juta wisatawan internasional. Dari 60 juta tersebut, 66 persennya merupakan wisatawan berulang, bukan wisatawan yang baru pertama kali datang,” ujar Gary.
Logikanya sederhana: turis yang baru pertama kali datang cenderung terpaku pada “rute emas” yang sudah padat, yaitu Tokyo, Osaka, dan Kyoto.
“Sebaliknya, wisatawan berulang akan menjelajah lebih luas. Mereka bepergian ke kota-kota sekunder dan daerah pedesaan, yang secara efektif menyebarkan uang pariwisata ke komunitas lokal yang benar-benar membutuhkan dorongan ekonomi,” ujar Gary.
Apa yang dilakukan oleh Jepang itu juga sejalan dengan strategi pemerintah Malaysia dan Indonesia. Wisatawan yang datang ke Indonesia kini tidak lagi terkonsentrasi di Jakarta, Bali, dan Lombok.
“Nantinya, secondary city akan mulai terdengar namanya. Tugas pemerintah saat ini adalah bagaimana mengisi bandara dengan kunjungan wisman,” ujar Gary.
Bangkitnya Wisata Malam
Untuk memaksimalkan pemasukan dari setiap turis, destinasi kini berfokus pada bagaimana wisatawan menghabiskan waktu dan uang mereka. Secara historis, pusat-pusat wisata utama di Asia menemukan adanya ketidakseimbangan: turis berbelanja dan berwisata secara masif pada siang hari, tetapi pengeluaran mereka menurun drastis setelah gelap karena kurangnya pengalaman dan aktivitas yang ditawarkan.
Hal inilah yang mendorong kebangkitan wisata malam. Kota-kota seperti Shanghai dan Changsha (yang terkenal sebagai kota yang tidak pernah tidur) memanfaatkan pasar makanan luar ruangan yang buka hingga larut malam, transportasi umum malam hari gratis, dan pertunjukan drone publik secara masif.
Pengalaman-pengalaman ini lebih dari sekadar membuat wisatawan terus aktif berbelanja, tapi juga menyatukan wisatawan domestik, turis internasional, dan penduduk lokal.
Di saat yang sama, perjalanan itu sendiri telah menjadi sebuah destinasi. Mulai dari kereta wisata berpemandangan indah yang menghadap ke jendela di Taiwan, hingga ledakan besar wisata berkendara mandiri (self-drive) di kalangan keluarga muda di China. Mereka menginginkan kendali atas rencana perjalanan mereka, beralih dari grup tur yang kaku menuju perjalanan darat yang spontan.
Kereta Cepat vs Tantangan Lintas Batas
Meskipun wisata berkendara mandiri lewat jalur darat sedang booming di dalam negara masing-masing, perjalanan darat lintas batas di Asia Tenggara masih lambat karena fragmentasi aturan asuransi, penyewaan mobil, dan regulasi bea cukai. Akibatnya, pemerintah berinvestasi besar-besaran dalam jaringan kereta cepat yang beroperasi dengan kecepatan di atas 250 km/jam.
India sedang aktif membangun jaringannya bekerja sama dengan Jepang (diperkirakan meluncur sekitar tahun 2027). Lalu, ada Thailand yang membangun jaringan luas kereta cepat yang didukung oleh kemitraan infrastruktur dengan China.
Vietnam merencanakan jaringan kereta cepat dari Utara-Selatan yang sangat ambisius, menghubungkan Hanoi langsung ke Ho Chi Minh City.






