Meskipun diperbolehkan menerima tamu, pihak hotel diminta untuk melakukan pembatasan kegiatan di beberapa fasilitas hotel untuk mengurangi keramaian. Dengan begitu, penyebaran virus Corona juga dapat dihindari agar kondisi ini segera berakhir.
“Layanan makanan dan minuman di hotel pun dibuat terbatas, hanya dapat dilakukan pada layanan kamar saja,” dia menambahkan.
Sebelumnya, Malaysian Association of Hotels sempat melakukan survei terhadap tingkat hunian yang terjadi di beberapa hotel Malaysia. Survei dilakukan di 14 wilayah berbeda dengan memilih beberapa hotel sebagai sampelnya. Hasil survei menyebutkan ada 94.000 kamar hotel yang kosong sehingga terjadi penurunan tingkat hunian yang cukup signifikan.
Tercatat pada 1 hingga 17 Maret 2020, rata-rata tingkat hunian hotel hanya sekitar 32 persen. Sedangkan untuk periode 18 hingga 31 Maret, rata-rata tingkat hunian hotel yang menjadi sampel tersebut hanya di angka 11 persen.
“Dari survei tersebut kita semua berharap bahwa MCO akan berakhir pada 31 Maret 2020. Namun, pada kenyataannya MCO diperpanjang menjadi 28 April 2020. Dari sini kita bisa menyaksikan bahwa industri kami mengalami penurunan hunian yang luar biasa,” ujar Yap.
Jika dibandingkan dengan tahun 2019 di periode yang sama, yakni 18-31 Maret, tingkat hunian hotel di tahun ini mengalami penurunan yang sangat drastis. Di periode tersebut, MAH mencatat terdapat kerugian lebih dari RM500 juta di sektor hotel. Sementara itu, jika MCO diperpanjang hingga 28 April 2020, industri ini akan kehilangan pendapatan lebih dari RM1,5 Miliar.
Turunnya permintaan kamar juga diartikan sebagai hilangnya pendapatan setiap hotel. Oleh karenanya, mereka harus menekan biaya operasional agar dapat tetap bertahan di tengah masa MCO ini.
“Dengan begitu, hotel perlu merencanakan strategi ke depannya agar dapat terus bertahan. Selain itu, mereka juga harus memastikan kelangsungan hidupnya sendiri di tengah kondisi seperti ini,” ucap Yap.





