Efek Buruk Pornografi Pada Anak

Saturday, 04 September 21 Venue

Kemudahan anak dalam mengakses konten yang berbau pornografi memberikan efek buruk pada perkembangannya. Hal itu dikatakan Daniel RB, Clinical Psychologist Hypnotherapist dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Kamis (2/9/2021).

“Pornografi dapat memberi dampak langsung pada perkembangan otak anak dan remaja. Hal ini bisa menyebabkan kerusakan otak permanen bila tidak segera diatasi,” ujar Danie.

Untuk menghindari hal tersebut, kata dia, diperlukan etika digital individu (netiket) saat berselancar di dunia maya. Etika digital adalah kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan, dan mengembangkan tata kelola etika digital atau netiquet dalam kehidupan sehari-hari. Adapun untuk menggunakan media digital.

“Urgensi netiket, yakni kita semua manusia bahkan sekalipun saat berada di dunia digital. Untuk itu, ikutilah aturan seperti dalam kehidupan nyata,” kata Danie.

BACA JUGA:   Disinformasi Pandemi Menyebar Melalui Medsos

Dia mencontohkan, konten pornografi menjadi sesuatu yang paling banyak dicari di internet mengalahkan game dan olahraga. Bahkan, Indonesia menjadi pengakses situs porno terbesar ketiga di dunia.

“Pornografi sering diartikan dengan berbagai perspektif. Akan tetapi, definisi yang banyak disepakati ialah materi di media tertentu yang dapat dan ditujukan untuk membangkitkan hasrat seksual khalayak untuk mengekploitasi seks. Sering dikatakan pornografi terkait cara pikir atau konstruksi seseorang. Ada yang mengkonstruksi sebagai seni, namun tidak sedikit yang menafsirkannya materi seksualitas,” ujarnya.

Danie mengatakan, hal yang harus dilakukan buat melindungi dari pornografi adalah membangun pondasi agama yang kuat, edukasi seks, atau kurikulum tentang anti pornografi. “Selain itu, kita juga bisa blokir dengan kegiatan positif dan sinergi yang harmonis dengan pihak terkait,” ujar dia.

Berdasarkan data literasidigital.id, sebanyak 90% anak terpapar pornografi dari internet saat berusia 11 tahun. Tidak hanya itu, sebanyak 299.602 internet protokol Indonesia juga memuat konten pornografi melalui media sosial.

BACA JUGA:   Memilih Bisnis Online, Ini Alasannya

“Terdapat 1.022 anak yang menjadi korban pornografi online sepanjang 2011-2014. Setiap hari, setidaknya ada 25.000 aktivitas pornografi anak di internet. Pelecehan ini bisa dimulai dari hal yang sederhana, misalnya berkenalan melalui media digital,” jelasnya.

Dia mengatakan, perhatian dan kasih sayang orangtua juga merupakan hal penting untuk menghindari terjadinya hal tersebut. “Berikan perhatian dan kasih sayang ke anak. Dampingi anak saat mengakses internet dan beri anak pemahaman tentang internet sehat,” ujarnya.

Dia menambahkan, adapun untuk memberikan edukasi seks kepada anak dalam bentuk konten dan informasi, orangtua perlu memberikan pemahaman lebih lanjut kepada anaknya.

“Orangtua harus memberi pemahaman terbaik mengenai apa yang harus dilakukan di usia mereka. Selain itu, orangtua juga perlu untuk memilah mana yang baik dikonsumsi anak atau tidak,” tuturnya.

BACA JUGA:   Candu Medsos, Begini Ciri-Cirinya

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).