Mengatasi Anak yang Kecanduan Gawai

Wednesday, 27 October 21 Venue
Edu Gears Exhibition

Gawai jadi senjata ampuh para orangtua untuk membuat anak tenang sekaligus betah di rumah. Sayang, menurut Miswanto, Wakil Sekjen Pengurus Pusat Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara, terlalu sering bermain alat canggih ini dapat menyebabkan anak kecanduan gawai.

“Kebiasaan ini akan berdampak buruk pada kesehatannya dalam jangka panjang. Jika sudah kecanduan, orangtua musti bekerja keras untuk menghentikannya,” kata dia dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 untuk wilayah Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Selasa (26/10/2021).

Miswanto mengatakan, membiarkan anak bermain gawai tanpa aturan, bisa membuat anak jadi kecanduan. Beragam permainan dan hal-hal menarik yang ada pada gawai bisa membuat Anda terus ketagihan untuk memainkannya.

“Anak yang kecanduan gawai cenderung menarik diri dari lingkungan dan lebih sibuk dengan gawainya. Saat Anda meminta mereka untuk berhenti main gawai, mereka akan menolak, marah, dan mengamuk,” ujar dia.

Menurutnya, perlu diketahui kecanduan gawai pada anak akan berdampak buruk pada kesehatannya. Saat memainkan gawai, anak tidak akan peduli dengan jarak pandang, postur tubuh, dan juga pengaturan cahaya. Hal tersebut dapat menurunkan kesehatan mata, menyebabkan nyeri pada tubuh, bahkan membuat anak jadi tidak aktif.

BACA JUGA:   Mengaplikasikan Netiket

“Anak-anak seharusnya aktif bergerak, menjelajahi lingkungan, berinteraksi dengan teman seumurannya, tapi malah sibuk dengan gawai. Jika terus berlanjut, kemampuan anak untuk bersosialisasi bisa tergganggu. Jadi, kecanduan gawai dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan juga jiwa anak,” kata Miswanto.

Dia mengatakan, untuk mengatasi anak kecanduan gawai, dapat mengikuti beberapa cara berikut ini:

  • Jadi contoh yang baik

Anak belajar dari lingkungan sekitarnya. Jika Anda terlihat sering bermain gawai, anak pasti akan mengikuti kebiasaan Anda ini. Jika Anda ingin mengurangi waktu bermain gawai, maka Anda juga mampu mengatur waktu untuk menggunakan gawai secara bijak. Jangan sampai Anda melarang anak untuk bermain gawai, tapi Anda sendiri masih terus menempel pada gawai. Larangan Anda tentu tidak akan membuahkan hasil.

  • Batasi penggunaan gawai
BACA JUGA:   Teknologi Digital Membuat UMKM Hemat Modal dan Waktu

Mengatur kembali waktu anak bermain gawai bisa membantu Anda untuk membatasi penggunaan gawai oleh anak. Kemudian, jangan meletakkan gawai sembarangan, anak bisa mengambil dan memainkannya dengan mudah. Pastikan area kamar tidur anak juga bebas dari gawai.

  • Perbanyak aktivitas di luar atau di dalam rumah

Meningkatkan aktivitas anak di dalam rumah atau di luar rumah bisa menyita perhatian anak dan lupa dengan gawai. Anda bisa mengajak anak untuk lari pagi atau bersepeda di hari libur, mengajak anak memasak bersama, atau berkunjung ke rumah saudara. Lakukan kegiatan apapun yang membuat anak kembali aktif.

  • Bersikap tegas

Kecanduan gawai yang membuat anak tantrum, memang sulit dihadap. Ingat, Anda harus tetap tegas untuk menerapkan peraturan yang baru Anda buat untuk membatasi waktu main gawai. Jangan sampai Anda iba dengan rengekan anak yang ingin terus main gawai.

  • Minta pertolongan dokter

Jika langkah-langkah di atas tidak memberikan efek yang maksimal. Bisa jadi anak malah akan depresi dan cemas. Itu artinya, Anda harus konsultasi pada dokter. Dokter akan memberikan cara terbaik untuk membantu Anda menenangkan si kecil dan mengurangi kecanduannya.

BACA JUGA:   Tiga Cara Amankan Transaksi Belanja Online

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).