Akhir-akhir ini isu hoaks kembali naik menyoal Covid-19. Menurut Danis Kirana, Co-Founder Dako Brand & Communication, di tengah ramainya pemberitaan terkait Covid-19, selalu ada oknum tertentu yang menyebarkan informasi bohong, sehingga membuat masyarakat resah dan percaya terhadap berita tersebut.
“Kita cenderung untuk terus membuka sosial media untuk memantau semua perkembangan yang terjadi. Sayangnya, dalam situasi seperti ini orang-orang sering mengirimkan berita bohong atau hoaks dan kemudian menyebarkannya di berbagai sosial media tanpa mengetahui kebenarannya,” ujar Danis, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Jumat (29/10/2021).
Dia mengatakan, hoaks atau berita bohong saat ini sudah menyasar ke beberapa aplikasi pesan instan yang cukup popular digunakan oleh masyarakat. Seiring dengan kemajuan teknologi, hoaks juga bermacam-macam bentuknya.
Menurut data Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) pada tahun 2019. Berita hoaks dari tulisan sebanyak 79,7%, foto editan 57,8%, foto dengan caption palsu 66,3%, video editan (dipotong-potong) 45,70%, video dengan caption atau narasi palsu 53,2%, berita/foto/video lama diposting kembali 69,20%.
Danis mengatakan, terdapat beberapa cara menghindari berita hoaks, hal itu dilakukan agar menjadi netizen yang lebih cerdas. Di antaranya:
- Cek Narasumber
Ketika menerima berita dari sosial media seperti Twitter, Line, WhatsApp, dan lain-lain, cobalah melihat dari mana sumber beritanya. Terkadang, berita hoaks hanya memiliki keterangan ‘dari grup sebelah’ atau tidak menyebutkan narasumber. Sebelum yakin tentang sumber berita, jangan sebarkan beritanya.
- Antisipasi Judul Berita yang Provokatif
Judul yang provokatif sangat marak digunakan bagi penulis artikel untuk meningkatkan kunjungan atau tanggapan di media sosial maupun media masa elektronik lainnya. Sehingga, tidak jarang, pembaca segera tergiur untuk membaca. Padahal belum tentu berita tersebut benar adanya. Untuk menghindari berita hoaks jenis ini, pembaca disarankan untuk mencari berita yang sama dari sumber yang lain.
- Waspada Dengan Gambar yang Dikirimkan
Selain artikel, yang paling mengena di pikiran adalah gambar yang disebarkan. Hati-hati ketika melihat gambar yang terlalu menyeramkan atau fenomenal. Terkadang, gambar itu bukan dari kejadian yang sebenarnya, melainkan diambil dari kejadian yang sudah lewat di tempat lain.
- Jangan Buru-buru Sharing
Di era media sosial seperti sekarang ini, setiap orang cenderung ingin jadi sumber pertama yang menyebarkan berita dan inilah yang membuat kita jadi tanpa pikir panjang langsung share berita yang diterima. Sebelum putuskan untuk membagikan, ada baiknya memastikan kebenarannya.
- Baca Secara Menyeluruh
Biasanya, berita hoaks cenderung panjang dan bertele-tele dengan judul yang bersifat click-bait. Kebiasaan setiap orang adalah hanya membaca judul dan headline saja tanpa membaca secara keseluruhan. Sebelum sebarkan, ada baiknya cek sumber lain ataupun diskusikan dengan teman terdekat.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 -untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).





