Tips Mengurangi ‘Screen Time’ Anak

Thursday, 04 November 21 Venue

Di masa Pandemi Covid-19, meningkatnya screen time alias waktu penggunaan gawai tidak bisa dihindari. Menurut Khresnomurti Wisaksono, Quality Assurance Manager at Eveplate Cloud Kitchen, penggunaan gawai pada anak naik dua kali lipat sejak pandemi.

“Bahkan, rata-rata anak menghabiskan hingga empat jam menggunakan gawai, jauh di atas rekomendasi pakar yang hanya satu jam,” kata dia dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Selasa (02/11/2021).

Menurut dia, akan sulit bagi orangtua untuk mengurangi penggunaan gawai pada anak, “terutama pada orangtua yang bekerja dari rumah,” ujar Khresnomurti.

Dia menambahkan, “meski begitu, bukan berarti Anda tidak bisa melakukannya. Ada tiga tips untuk mengurangi screen time anak yang bisa dilakukan orangtua,” ujarnya.

Tiga tips itu, yakni:

  • Konsisten terapkan peraturan

Orangtua harus konsisten menegakkan peraturan pembatasan screen time. Jika anak hanya dibolehkan menggunakan screen time selama 2 jam, maka aturan tersebut wajib dijalankan di manapun, baik saat ayah dan ibu tidak ada di rumah, saat berkunjung ke rumah kakek dan nenek, maupun saat bertandang ke rumah sahabat. Dengan konsisten menegakkan peraturan, anak akan lebih kecil risikonya untuk merengek ketika jatah screen time habis. Tentu saja awalnya mereka akan marah. Anda merebut kesenangan mereka menonton video atau bermain game. Tapi ini adalah risiko yang harus ditanggung orangtua.

  • Beri anak pilihan
BACA JUGA:   Konsekuensi Masuk Ke Era Digital

Anak tentu akan marah ketika screen time dibatasi. Di sini, orangtua wajib memberikan pilihan agar anak merasa memiliki kuasa terhadap aktivitas yang akan dilakukan selanjutnya. Bantu anak beralih dari menatap layar ke aktivitas fisik. Misalnya jika ia sedang menonton kartun, Anda bisa mengajaknya untuk bermain boneka dengan cerita yang dibangun sendiri. Memberikan batas waktu sebelum beralih ke kegiatan selanjutnya juga tindakan baik. Dengan begitu, anak memiliki keleluasaan dalam aktivitasnya. Jangan langsung matikan TV. Berikan peringatan 5 menit lagi waktu menonton selesai agar anak tidak tantrum.

  • Ajak main secara aktif
BACA JUGA:   Internet, Kebutuhan Bukan Keharusan

Solusi terakhir ketika perhatian anak sudah teralih dari gawai, adalah mengajaknya bermain secara aktif. Screen time tinggi bisa jadi buah dari kebosanan anak. Dengan melakukan permainan aktif, maka anak tidak akan bosan dan keinginan bermain gawai menghilang. Board games, bermain bola, atau bermain peran merupakan alternatif permainan aktif yang bisa merangsang ketertarikan anak dan menjauhkannya dari gawai.

Khresnomurti mengatakan, orangtua mungkin tidak selalu memiliki waktu dan tenaga untuk bermain secara aktif dengan anak, apalagi di masa pandemi. “Jika ini terjadi, Anda bisa mengatur waktu play date atau bermain bersama dengan orangtua lain secara bergantian,” kata dia.

BACA JUGA:   Menguasai Literasi Keuangan Digital

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).