Asia Pasifik Wilayah dengan Pertumbuhan MICE Tercepat

Friday, 13 September 19 Herry Drajat
Pengeluaran wisatawan MICE 7 kali lebih besar dibandingkan wisatawan umum, serta masa tinggal yang lebih lama.

Colliers International, perusahaan layanan real estate dan manajemen investasi global terkemuka, merilis laporan Hotel Insights Q3 tahun 2019 yang berisikan tren di sektor industri perhotelan.

Govinda Singh, Direktur Eksekutif Valuation & Advisory Services Asia Colliers, mengatakan, hotel di seluruh Asia Pasifik terus mengalami tahun yang sulit di kuartal kedua 2019 dibandingkan dengan kuartal tahun sebelumnya, dengan keseluruhan hunian kamar turun menuju angka 68,1 persen, dan tarif harian rata-rata menunjukkan penurunan ke angka US$99,76.

“Eskalasi sengketa perdagangan AS-Cina terbaru terus membebani kepercayaan bisnis dan konsumen sehingga menghambat pertumbuhan permintaan. Namun, industri perjalanan intra-Asia dan perjalanan domestik yang berkembang di tujuan-tujuan yang lebih besar di Asia kemungkinan akan terus mendukung permintaan di kawasan ini,” ujar Singh.

MICE di Asia

Secara global, Asia Pasifik adalah wilayah terbesar dan berkembang tercepat untuk industri MICE, dengan pertemuan dan perjalanan berbasis acara yang menghasilkan US$229 miliar pada 2017 atau 28,4 persen dari pendapatan global.

MICE adalah sumber pendapatan penting untuk sektor perhotelan. Sekitar 90 persen dari semua acara bisnis di kawasan ini diselenggarakan di hotel, dan pengeluaran pengunjung adalah sebesar 1,7 kali lebih banyak daripada turis liburan.

Malaysia, Indonesia, dan Kamboja berfokus pada acara yang mempromosikan kegiatan perdagangan di kawasan ini, sementara destinasi yang lebih mapan seperti Cina, Singapura, dan Hong Kong sedang memperbarui diri melalui penyediaan pengalaman unik dengan teknologi, kuliner, dan konten.

Secara regional, China mendominasi industri MICE di Asia Pasifik dan diperkirakan akan mempertahankan posisi teratas hingga tahun 2025.

Outlook Investasi Hotel

Di seluruh wilayah, investor mulai pembelian saham setelah kuartal sebelumnya yang penuh peristiwa politik, di antaranya pemilu di India dan Indonesia hingga protes massal di Hong Kong. Investor memercayai aktivitas yang dapat berujung pada kerusuhan di beberapa daerah kemungkinan dapat diredam.

Hal lain yang diwaspadai oleh investor adalah perkembangan ketegangan perdagangan AS-Cina dan melambatnya pertumbuhan global. Pada 2019, pasar transaksi relatif tetap tenang karena pemilik mengonsolidasikan portofolio mereka dan mencari investasi oportunistis.