Asita Sulawesi Lakukan Simulasi Protokol Kesehatan Untuk Tour Inbound

Tuesday, 29 September 20 Bonita Ningsih

Pariwisata merupakan salah satu industri yang paling terdampak dengan adanya pandemi COVID-19. Pariwisata dengan banyak sektor di dalamnya, salah satunya ialah travel agent, harus kehilangan peluang bisnis sejak COVID-19 menyerang berbagai negara di dunia.

Didi L. Manaba, Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DPD Sulawesi, mengungkapkan bahwa agen perjalanan menjadi bisnis yang paling berdampak selama pandemi. Semua perjalanan wisata yang dipesan dari agen perjalanan terpaksa ditunda bahkan dibatalkan sehingga bisnisnya tidak dapat berjalan.

“Bisnis kami ini ‘kan menggerakkan banyak orang, tetapi pandemi ini membuat orang tidak bisa bergerak, makanya bisnis kami ini yang paling berdampak. Kami harap bisnis ini akan segera kembali normal,” kata Didi.

Kendati berada di fase yang kurang baik, Asita Sulawesi tetap melakukan kegiatan sosial, seperti menyalurkan bantuan kepada karyawan yang kurang mampu dan terdampak. Asita Sulawesi juga membantu mahasiswa yang ingin melakukan praktik kerja lapangan (PKL) di agen perjalanan. Bantuan ini dilakukan secara daring dengan memberikan informasi terkait perjalanan wisata dan pariwisata secara keseluruhan.

“Jadi, kami juga menjadi guru bagi ratusan mahasiswa PKL yang tidak bisa didistribusikan ke travel agent. Kami berikan ritme seperti mereka PKL pada umumnya, dengan masuk di jam tertentu dan lainnya, tujuannya agar mereka tidak kehilangan informasi saat PKL,” jelasnya lagi.

Sementara itu, untuk keberlangsungan bisnis agen perjalanan ke depannya, Didi mengajak seluruh anggotanya untuk tetap optimistis dan mengatur berbagai strategi di dalamnya. Salah satu yang telah dilakukan ialah mengemas paket perjalanan wisata yang menarik agar dapat dikonsumsi saat pandemi berakhir.

“Kami dari individu dan organisasi melakukan banyak hal di sini, memberi semangat satu sama lain. Berbenah kantor dan melakukan persiapan-persiapan untuk ke depannya,” dia menambahkan.

Selain itu, Asita Sulawesi juga telah melakukan simulasi protokol kesehatan untuk tour inbound. Hal ini dilakukan untuk menyambut kembali para wisatawan pasca-pandemi sehingga tidak ada lagi rasa khawatir saat melakukan perjalanan wisata ke Sulawesi. Standar protokol kesehatan seperti menggunakan masker, jaga jarak, menjaga kebersihan tangan, dan lainnya, akan diterapkan pelaku pariwisata Sulawesi saat menyambut tamunya kembali.

“Simulasi ini terlaksana atas kerja sama dengan pemerintah daerah yang kami kunjungi, seperti Pemerintah Kabupaten Toraja dan lainnya. Kami juga lakukan dengan asosiasi terkait agar protokol kesehatan ini dapat segera dilakukan saat PSBB selesai atau kondisi normal kembali,” ucapnya lagi.