Asperapi akan Menyusun Protokol Penyelenggaraan Pameran

Thursday, 04 June 20 Herry Drajat
buyer
Kehadiran buyer berperan penting dalam menentukan sukses-tidaknya suatu pameran dagang. Foto: Venuemagz/Catur

Agar kegiatan MICE dapat berjalan pada masa kenormalan baru, Asperapi sedang menyusun protokol sebagai panduan pelaksanaan event. Hosea Andreas Runkat, Ketua Umum Asperapi, dalam webinar Afternoon Talk Asperapi pada 3 Juni 2020 mengatakan bahwa pihaknya sedang menyusun panduan berdasarkan penjabaran protokol kesehatan masing-masing anggota sesuai dengan bisnisnya, baik itu organizer, venue, maupun vendor.

“Targetnya pada pertengahan Juli ini sudah selesai dan akan diserahkan kepada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk dikompilasi dengan protokol yang dibuat kementerian,” jelas Andre.

Menurut Andre, yang menjadi pedoman penyusunan adalah protokol yang dikeluarkan oleh The Global Association of the Exhibition Industry (UFI). Protokol tersebut juga berlaku untuk asosiasi lain, yaitu ICCA (International Congress and Convention Association) dan AIPC (International Association of Convention Centres).

“Kita tidak serta-merta adopsi 100 persen, tetapi kita sesuaikan dengan kondisi bisnis di Indonesia,” jelas Andre.

Ir. Rizki Handayani Mustofa, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kemenparekraf, menambahkan, pihaknya saat ini juga sedang fokus pada kegiatan mempersiapkan protokol kesehatan untuk event MICE. Kegiatan tersebut direncanakan akan berlangsung pada dua triwulan terakhir tahun 2020.

Pada triwulan ketiga adalah periode persiapan atau gaining confidence market, yang dimulai dengan penyusunan SOP, mensimulasikan semua turunan dari industri MICE, lalu disosialisasikan ke semua pelaku juga kepada pengunjung pameran, dan terakhir adalah dilakukannya uji coba.

“Saat uji coba saya ingin mengundang tamu internasional untuk komentar terhadap protokol kita. Kita harus dapat key opinion leader yang menyatakan bahwa industri pameran di Indonesia sudah memenuhi protokol internasional,” jelas Rizki.

“Saya berharap penyusunan protokol bersama Asperapi selesai pada akhir Juni,” tambah Rizki.

Sementara itu, Dra. Tuti Prahastuti, M.Si, Direktur Pengembangan Promosi dan Citra Kementerian Perdagangan, menambahkan, Kementerian Perdagangan sedang melakukan diskusi internal yang melibatkan perwakilan dagang luar negeri mengenai pameran virtual, terutama tentang konsep dan modelnya.

Namun, menurut Rizki, untuk pameran sebaiknya semua sellers datang, meski buyers bisa melakukan secara digital.

Sementara Andre berpendapat, penyelenggaraan MICE secara digital hanya berlaku sementara dan merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan oleh pelaku industri untuk membina hubungan serta merawat jaringannya sampai kondisi memungkinkan untuk menyelenggarakan event secara normal dengan protokol tertentu.