Jakarta, Venuemagz.com – Ketika sebuah kota menjadi tuan rumah konser BTS, yang datang bukan hanya penggemar musik. Ribuan wisatawan membawa kebutuhan akan hotel, makanan, transportasi, hingga berbagai aktivitas wisata selama beberapa hari.
Pertanyaannya, bagaimana sebuah kota memastikan manfaat ekonomi dari kedatangan mereka hingga bisa dirasakan lebih luas, bukan hanya oleh penyelenggara konser atau kawasan sekitar venue?
Busan tampaknya sudah menyiapkan jawabannya. Menjelang gelaran BTS World Tour “ARIRANG” in Busan pada 12–13 Juni 2026, Pemerintah Metropolitan Busan meluncurkan serangkaian program yang dirancang khusus untuk mengubah euforia konser menjadi pergerakan ekonomi bagi pelaku usaha lokal.
Salah satu yang paling menarik perhatian adalah program homestay gratis bagi wisatawan asing, sebuah langkah yang cukup tidak biasa untuk ukuran kota penyelenggara konser berskala global.
Program tersebut memungkinkan wisatawan internasional menginap selama dua malam di rumah warga Busan pada 12–14 Juni 2026. Tujuannya bukan sekadar menyediakan tempat tidur tambahan saat kota dipadati pengunjung, tetapi juga memberikan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Langkah ini muncul bukan tanpa alasan. Menjelang konser BTS, harga hotel di Busan mengalami lonjakan signifikan. Berdasarkan survei yang dilakukan Korea Consumer Agency dan Komisi Perdagangan Adil Korea pada Januari 2026, tarif penginapan saat akhir pekan konser mencapai rata-rata 433.900 won per malam atau sekitar Rp5 juta, naik sekitar 2,4 kali lipat dibandingkan akhir pekan biasa.
Kondisi seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Hampir semua kota yang menjadi tujuan konser internasional menghadapi fenomena serupa. Permintaan kamar melonjak dalam waktu singkat, sementara ketersediaan akomodasi terbatas. Akibatnya, wisatawan harus mengeluarkan biaya jauh lebih besar hanya untuk menginap.
Melalui program homestay, Busan mencoba menghadirkan alternatif. Peserta memang diwajibkan menyetor uang jaminan sebesar 50.000 won atau sekitar Rp600.000 saat melakukan reservasi.
Namun, dana tersebut akan dikembalikan sepenuhnya saat check-in dalam bentuk voucher wisata Busan dengan nilai yang sama. Dengan kata lain, uang itu tidak menjadi biaya menginap, melainkan insentif agar wisatawan membelanjakan uang mereka di berbagai destinasi dan usaha lokal.
Dan untuk memberikan rasa aman bagi para tuan rumah, Pemerintah Kota Busan juga menanggung asuransi tanggung jawab bagi warga yang berpartisipasi dalam program tersebut.
Jika dicermati sebenarnya homestay hanyalah satu bagian dari strategi ekonomi pariwisata yang lebih besar. Pada saat yang sama, Busan juga menjalankan Busan Big Sale Week, yaitu program promosi ekonomi yang berlangsung pada 10–16 Juni 2026. Lebih dari 550 toko usaha kecil dan menengah serta sembilan pusat perbelanjaan besar dilibatkan dalam kampanye ini.
Pemerintah kota secara aktif mendorong para ARMY yang datang dari berbagai negara untuk menjelajahi pasar tradisional, kawasan kuliner, hingga distrik komersial lokal. Sejumlah toko bahkan menawarkan diskon khusus bagi pengunjung yang menunjukkan tiket konser BTS.
Busan juga memperkuat ekosistem digital bagi wisatawan internasional. Sebuah portal informasi khusus disiapkan untuk membantu pengunjung mengakses berbagai kebutuhan selama konser berlangsung, mulai dari informasi transportasi, lokasi wisata, hingga layanan pendukung lainnya.
Jika diperhatikan, yang dilakukan Busan sebenarnya lebih dari sekadar menyambut konser BTS. Kota ini sedang memanfaatkan momentum budaya pop global sebagai instrumen pengembangan ekonomi daerah.
Alih-alih membiarkan puluhan ribu pengunjung datang dan pergi tanpa meninggalkan dampak yang berarti, pemerintah kota berusaha mengarahkan arus wisatawan tersebut ke lingkungan-lingkungan lokal, usaha kecil, hingga rumah-rumah warga.
Pendekatan seperti ini menarik untuk dicermati, terutama bagi Indonesia yang dalam beberapa bulan ke depan juga akan menjadi tuan rumah konser BTS di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
Selama ini, pembahasan mengenai konser besar sering berfokus pada jumlah penonton, penjualan tiket, atau dampak ekonomi secara umum. Busan menawarkan sudut pandang yang berbeda, bagaimana sebuah kota secara aktif merancang program agar manfaat ekonomi tersebut benar-benar menyebar ke berbagai lapisan masyarakat.
Karena pada akhirnya, konser memang hanya berlangsung beberapa jam. Namun, jika dikelola dengan tepat, dampaknya bisa dirasakan jauh lebih lama oleh kota yang menjadi tuan rumah. Dan Busan sedang mencoba membuktikan hal itu lewat kedatangan BTS.






