Bus Bintang 5 untuk Dorong Pariwisata

Wednesday, 20 December 17 0 Comments   Harry Purnama
bus wisata bintang 5
Foto: Venuemagz/Erwin

Kementerian Perhubungan terus mendukung sektor pariwisata agar memiliki daya saing kuat di level dunia. Dukungan tersebut berupa pembenahan infrastruktur transportasi, baik darat, laut, maupun udara agar wisatawan semakin mudah dan nyaman menggunakan semua moda transportasi di Indonesia.

Saat Rakornas IV Pariwisata di Kasablanka, Jakarta, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memperlihatkan komitmennya untuk terus mendukung pariwisata, antara lain dengan menjadikan seluruh bandara yang ada destinasinya menjadi bandara internasional, menambah infrastruktur bandara, memperpanjang dan memperlebar runway dan apron, hingga memperluas terminal.

Selain untuk konektivitas udara, Budi Karya juga akan memperbaiki moda transportasi darat, antara lain dengan membuat penggolongan bus layaknya hotel bintang 1 sampai bintang 5. Setiap bintang tersebut tentunya yang membedakan adalah level kenyamanannya. Standarnya dibuat dengan acuan dunia, dan penilaian terhadap operator bus dilakukan dengan ketat.

“Kami ada klasifikasi bintang, (nantinya) bintang satu sampai bintang lima. Masing-masing bintang itu ada indikatornya. Bintang satu seperti apa, yang bintang dua seperti apa. Penilaian tertinggi adalah yang bintang lima. Kalau sudah bintang lima, itu sama dengan hotel kira-kira,” kata Budi Setiyadi, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan.

Penilaian itu bukan tanpa alasan. Semuanya dilakukan untuk mendukung kenyamanan masyarakat hingga wisatawan. “Data yang kami himpun (Dirjen Perhubungan Darat) per 14 November 2017, sebanyak 30,04 persen dari 23.345 bus atau 7.104 bus dinyatakan tidak laik jalan. Sebanyak 5.592 ditilang dan dilarang operasional, sementara 1.422 sisanya hanya dilarang operasional,” ujar Budi.

Dengan adanya penilaian sesuai bintang, sisi fasilitas dan pelayanan akan dioptimalkan. Bus-bus pun makin nyaman. “Klasifikasi ini untuk menggairahkan kembali masyarakat hingga wisatawan. Tampilan bus dan fasilitasnya makin segar. Makin oke untuk bepergian jauh,” ujarnya.

Saat ini pun bus-bus yang beroperasi sudah banyak yang dua tingkat. Bahkan, sampai ada tempat tidur di dalamnya. Sayangnya, hal ini belum banyak diketahui masyarakat.

“Nantinya perusahaan otobus (PO) diharapkan dapat meningkatkan pelayanan dan fasilitas agar mendapatkan tingkat klasifikasi yang tinggi,” ujarnya.

Budi memastikan program tersebut akan segera dilakukan untuk memberikan penilaian terhadap operator bus, dan program tersebut rencananya direalisasikan setelah musim Natal dan tahun baru.

“Jadi kita bekerja sama dengan MarkPlus untuk memberikan semacam penilaian perusahaan-perusahaan PO bus ini. Jadi kita harapkan masyarakat ini yang tadinya banyak menggunakan angkutan pribadi, kita ingin ajak beralih ke bus,” ujar Budi.

Menteri Pariwisata Arief Yahya juga menyambut baik hadirnya layanan klasifikasi bus berbintang. Ia mengatakan, pengembangan transportasi sangat erat kaitannya dengan pariwisata. “Di Eropa sendiri wisatawan banyak bepergian menggunakan transportasi darat. Dan di sana, perjalanan darat itu dianggap sebagai pariwisata,” ujar Arief Yahya.

Menpar juga berpesan agar bus berbintang nantinya juga menggunakan rumus 3A, yakni akses, akomodasi, dan atraksi. Para PO bus harus menjual produk transportasi dalam bentuk paket pariwisata yang termasuk akomodasi dan atraksi.