Banyuwangi, Venuemagz.com – Fenomena blue fire (api biru) danau Kawah Ijen terbukti ampuh menyedot jutaan pasang mata. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya jumlah wisatawan nusantara maupun mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Banyuwangi hingga Jawa Timur.
Berdasarkan data yang dicatatkan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (Kemenpar RI), jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung ke Banyuwangi mencapai 529 ribu dan 73 ribu untuk wisman pada tahun 2025. Sedangkan, Provinsi Jawa Timur mencatat lebih dari 82,3 juta kunjungan wisatawan nusantara dan sekitar 521 ribu kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang tahun 2025.
Tingginya jumlah tersebut tak lepas dari stempel UNESCO yang tersemat di Kawah Ijen. Berdasarkan data dari Kemenpar, Ijen telah resmi menyandang status UNESCO Global Geopark sejak 9 September 2023,
Kawasan geopark ini memiliki luas sekitar 4.723 kilometer persegi yang mencakup wilayah Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso. Kawasan ini memiliki kekayaan berupa 21 geosite, 6 biosite, 10 culture site, dan 8 warisan budaya tak benda (intangible heritage). Salah satu daya tarik utamanya adalah fenomena blue fire serta danau kawah dengan tingkat keasaman tertinggi di dunia.
Revalidasi Ijen
Untuk mempertahankan keberadaan Ijen di mata dunia akan dilakukan proses revalidasi UNESCO Global Geopark (UGGp). Revalidasi merupakan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pengelolaan kawasan guna memastikan standar UNESCO tetap dipenuhi secara berkelanjutan.
Kawasan Ijen dijadwalkan menjalani proses revalidasi oleh tim asesor UNESCO pada tanggal 3–7 Agustus 2026. Dalam hal ini, Kemenpar bersama pengelola Geopark Ijen dan seluruh pemangku kepentingan akan memastikan proses revalidasi berjalan lancar dengan melakukan kunjungan langsung ke lapangan.
Kunjungan langsung ke lapangan dilakukan oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana pada tanggal 24 Juli 2026. Dalam kunjungannya, Menpar mengatakan bahwa proses revalidasi menjadi salah satu upaya untuk mempertahankan pengakuan internasional bagi kawasan Kawah Ijen.
“Sekaligus sebagai momentum untuk memperkuat tata kelola destinasi berbasis konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat,” kata Widi dalam siaran persnya saat menghadiri diskusi di Pendopo Sabha Swagatha, Banyuwangi, Jawa Timur.
Oleh sebab itu, Menpar menekankan pentingnya memperkuat koordinasi dan kolaborasi dari seluruh pihak yang terkait. Tujuannya agar setiap rekomendasi asesor UNESCO dapat ditindaklanjuti secara optimal mulai dari penguatan promosi warisan geologi, peningkatan aksesibilitas, hingga pengembangan kemitraan.
Kementerian Pariwisata juga berkomitmen akan terus memberikan pendampingan hingga seluruh tahapan revalidasi selesai. Jika sudah selesai, Menpar berharap pengelolaan Kawah Ijen harus selalu mengedepankan aspek keselamatan wisatawan serta prinsip-prinsip pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.
“Target kita adalah mempertahankan predikat green card sebagai bukti bahwa pengelolaan kawasan telah mampu menyeimbangkan aspek konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat,” ungkapnya lagi.
Nantinya, ketika kunjungan wisatawan semakin meningkat, Menpar mengingatkan untuk menjaga kawasan Ijen agar tetap nyaman bagi para wisatawan. Mulai dari meningkatkan kualitas amenitas, kebersihan, keamanan, kenyamanan, pengelolaan sampah, penguatan storytelling destinasi, serta kapasitas sumber daya manusia agar pengalaman wisata semakin berkualitas.
“Pengalaman wisata yang berkualitas akan menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing destinasi sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” tutup Menpar.








