BerandaNewsIndonesia Miskin Data MICE

Indonesia Miskin Data MICE

Published on

spot_img

Selain rajin mengikuti bidding, kerap hadir di pelbagai trade show yang menyasar pasar MICE juga penting dilakukan Indonesia. “Pemasaran diperkuat melalui acara trade show. Selama ini trade show lebih banyak menyasar pasar leisure. Ya tolonglah porsi untuk MICE di perbanyak,” kata Hosea Andreas Runkat, Ketua Tim Percepatan MICE.

Perhelatan AIME (Asia Pacific Incentive and Meetings Event) di Melbourne, merupakan satu dari dua trade show (MICE) yang dikawal oleh Asdep Pengembangan Wisata Alam dan Buatan pada tahun 2019. Oleh Tim Percepatan MICE, AIME tak hanya dimanfaatkan sekadar wadah berpromosi melainkan juga sebagai media untuk mengenal lebih dalam potensi pasar dan kompetitor.

BACA JUGA:  Dyandra Media International Ekspansi ke Industri Tourism Leisure

Menurut Andreas, selama ini trade show hanya dimanfaatkan untuk promosi dan jualan. Padahal, momentum itu juga dapat dimanfaatkan untuk menghimpun data buyers dan sellers. Kemudian, potential leads yang diperoleh selama acara akan dimonitor dan ditindaklanjuti, sehingga efektifitas acara trade show menjadi terukur.

“Pada acara AIME kami menurunkan tim riset. Hasilnya sebagai bahan evaluasi untuk menilai KPI event, mengetahui potensi pasar, dan menyusun strategi selanjutnya,” kata Andreas. “Apa yang kami lakukan di AIME, juga akan dilakukan pada acara trade show serupa.”

Riset di AIME merupakan salah satu jalan untuk memperkaya data MICE nasional. Pasalnya, saat ini Indonesia terbilang miskin akan data MICE. Tak ada data pasti yang menjelaskan berapa jumlah turis MICE, dan frekuensi jumlah acara di masing-masing unsur MICE. Padahal, keberadaan data dan angka itu penting untuk menyusun strategi percepatan industri MICE nasional.

BACA JUGA:  Ketahui Tiga Trik Ini Agar Sponsor Tertarik

Industri MICE yang secara struktural berada di bawah ASDEP Pengembangan Wisata Alam dan Buatan Kementerian Pariwisata, pada tahun ini ditargetkan menyumbang sekitar 10 persen dari total kunjungan turis mancanegara, atau sekitar 2 juta turis. Adapun target devisa dari turis MICE pada 2019 sebesar USD5,1 miliar.

Persoalannya, untuk mengukur target yang ditetapkan tersebut, Kementerian Pariwisata tidak memiliki input data dari BPS. Dari sekitar 13 produk pariwisata yang ada, termasuk MICE, BPS hanya melakukan penghimpunan data terhadap wisman yang masuk di sektor perhotelan, restoran dan obyek wisata.

BACA JUGA:  Sandiaga Uno: Pantai adalah Area Publik, bukan untuk Pribadi

“BPS belum melakukan break down jumlah wisman yang masuk berdasarkan produk wisata yang ada. Sehingga meskipun target sudah ditetapkan, tapi realisasi dari itu belum dapat terjawab,” kata Alexander Reyaan, Asisten Deputi Pengembangan Wisata Alam dan Buatan.

Menyikapi persoalan itu, Tim Percepatan MICE saat ini tengah melakukan pendekatan dengan BPS agar mau mengelola data MICE. “Itu memang tidak bisa terealisasi dengan cepat. Tapi setidaknya itu mulai membuat BPS mau mengelola, sehingga beberapa tahun ke depan BPS dapat mempunyai perhitungan yang bagus,” kata Andreas.  “Jadi sekarang sedang diarahkan, bagaimana surveinya, cara mencari datanya, dan apa targetnya. Terpenting, BPS mau dahulu.”

Event Besar Jadi Motor Baru Pariwisata Australia Barat Menuju 2027

Jakarta, Venuemagz.com — Australia Barat semakin serius menjadikan kalender acara sebagai pintu masuk bagi...

Singapore Airlines Hadirkan KrisWorld Terbaru dengan Layar 4K dan Internet Starlink

Singapore Airlines (SIA) meningkatkan pengalaman hiburan dalam penerbangan melalui KrisWorld generasi terbaru dan konektivitas...

TransNusa Luncurkan Penerbangan Perdana Melbourne-Bali

Jakarta, Venuemagz.com -- TransNusa, Premium Service Carrier pelopor di kawasan Asia Pasifik, resmi meluncurkan...

IGF 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan Lelang Alat Golf dan Clearance Sale

Kabupaten Tangerang, Venuemagz.com — Indonesia Golf Festival (IGF) resmi digelar untuk kedua kalinya di...