Indonesia Miskin Data MICE

Tuesday, 10 September 19 Bayu Hari
Data MICE Indonesia
Ketersediaan data terkait industri MICE merupakan persoalan yang tidak pernah terselesaikan hingga saat ini

Selain rajin mengikuti bidding, kerap hadir di pelbagai trade show yang menyasar pasar MICE juga penting dilakukan Indonesia. “Pemasaran diperkuat melalui acara trade show. Selama ini trade show lebih banyak menyasar pasar leisure. Ya tolonglah porsi untuk MICE di perbanyak,” kata Hosea Andreas Runkat, Ketua Tim Percepatan MICE.

Perhelatan AIME (Asia Pacific Incentive and Meetings Event) di Melbourne, merupakan satu dari dua trade show (MICE) yang dikawal oleh Asdep Pengembangan Wisata Alam dan Buatan pada tahun 2019. Oleh Tim Percepatan MICE, AIME tak hanya dimanfaatkan sekadar wadah berpromosi melainkan juga sebagai media untuk mengenal lebih dalam potensi pasar dan kompetitor.

Menurut Andreas, selama ini trade show hanya dimanfaatkan untuk promosi dan jualan. Padahal, momentum itu juga dapat dimanfaatkan untuk menghimpun data buyers dan sellers. Kemudian, potential leads yang diperoleh selama acara akan dimonitor dan ditindaklanjuti, sehingga efektifitas acara trade show menjadi terukur.

“Pada acara AIME kami menurunkan tim riset. Hasilnya sebagai bahan evaluasi untuk menilai KPI event, mengetahui potensi pasar, dan menyusun strategi selanjutnya,” kata Andreas. “Apa yang kami lakukan di AIME, juga akan dilakukan pada acara trade show serupa.”

Riset di AIME merupakan salah satu jalan untuk memperkaya data MICE nasional. Pasalnya, saat ini Indonesia terbilang miskin akan data MICE. Tak ada data pasti yang menjelaskan berapa jumlah turis MICE, dan frekuensi jumlah acara di masing-masing unsur MICE. Padahal, keberadaan data dan angka itu penting untuk menyusun strategi percepatan industri MICE nasional.

Industri MICE yang secara struktural berada di bawah ASDEP Pengembangan Wisata Alam dan Buatan Kementerian Pariwisata, pada tahun ini ditargetkan menyumbang sekitar 10 persen dari total kunjungan turis mancanegara, atau sekitar 2 juta turis. Adapun target devisa dari turis MICE pada 2019 sebesar USD5,1 miliar.

Persoalannya, untuk mengukur target yang ditetapkan tersebut, Kementerian Pariwisata tidak memiliki input data dari BPS. Dari sekitar 13 produk pariwisata yang ada, termasuk MICE, BPS hanya melakukan penghimpunan data terhadap wisman yang masuk di sektor perhotelan, restoran dan obyek wisata.

“BPS belum melakukan break down jumlah wisman yang masuk berdasarkan produk wisata yang ada. Sehingga meskipun target sudah ditetapkan, tapi realisasi dari itu belum dapat terjawab,” kata Alexander Reyaan, Asisten Deputi Pengembangan Wisata Alam dan Buatan.

Menyikapi persoalan itu, Tim Percepatan MICE saat ini tengah melakukan pendekatan dengan BPS agar mau mengelola data MICE. “Itu memang tidak bisa terealisasi dengan cepat. Tapi setidaknya itu mulai membuat BPS mau mengelola, sehingga beberapa tahun ke depan BPS dapat mempunyai perhitungan yang bagus,” kata Andreas.  “Jadi sekarang sedang diarahkan, bagaimana surveinya, cara mencari datanya, dan apa targetnya. Terpenting, BPS mau dahulu.”