Jakarta, VenueMagz.com – Stasiun Pegangsaan Dua tampak lebih ramai dari biasanya pada 26 November 2025. PT LRT Jakarta mengumpulkan media dalam gelaran Media Day, memberi sinyal bahwa fase lanjutan, atau Fase 1B, bukan lagi sekadar rencana di atas kertas.
Rangkaian uji dan persiapan sudah dirapikan, dan LRT Jakarta menyatakan kesiapan penuh menyambut lima stasiun baru, mulai dari Rawamangun, Pramuka BPKP, Pasar Pramuka, Matraman, hingga berakhir di Manggarai yang ditargetkan beroperasi pada Agustus 2026.
“Proyek LRT Jakarta 1B ini terbentang sepanjang 6,4 kilometer, yang merupakan perpanjangan dari LRT Jakarta 1A. Dengan adanya jalur fase 1B, maka total keseluruhan LRT Jakarta memiliki jalur layanan kurang lebih sekitar 12 km,” jelas Ramdani Akbar, Direktur Proyek LRT Jakarta.
Peta mobilitas menggunakan moda transportasi LRT Jakarta pun bakal berubah. Jalur yang tadinya berhenti di Velodrome kini akan bergerak ke pusat kota. Tidak hanya soal memindahkan orang dari satu titik ke titik lain, tetapi juga membuka jalur-jalur akses menuju venue, pusat perbelanjaan, dan ruang komunal yang selama ini sulit dijangkau tanpa kendaraan pribadi.
Selama 2025, LRT Jakarta mencatat 1,1 juta penumpang, dengan rata-rata lebih dari 3.500 penumpang per hari pada rute eksisting (Fase 1A) dari Pegangsaan Dua -Boulevard Utara -Boulevard Selatan -Pulomas -Equestrian -Velodrome. Angka ini menunjukkan tren naik sejak pertengahan tahun, sejalan dengan perkembangan kawasan Kelapa Gading sampai Velodrome yang terus menjadi magnet aktivitas ekonomi dan event.
Roberto Akyuwen, Direktur Utama PT LRT Jakarta, menekankan bahwa peningkatan penumpang bukan semata soal tarif terjangkau, melainkan konsistensi layanan dan integrasi jaringan, sebuah kombinasi yang perlahan-lahan memulihkan kepercayaan publik terhadap transportasi massal di Jakarta.
Akses ke Kelapa Gading Jadi Contoh Nyata
Bagi industri MICE dan pelaku kreatif Jakarta, buah manis LRT sudah mulai terasa. Di Kelapa Gading, stasiun LRT Boulevard Utara telah terintegrasi langsung dengan mal besar yang menjadi pusat hiburan dan rekreasi. Di dalamnya ada La Piazza, ruang pertunjukan yang rutin menggelar konser musisi lokal dan nasional setiap pekannya.
Event-event tersebut dulu identik dengan kemacetan atau keterbatasan parkir. Kini, penonton punya alternatif transportasi yang jauh lebih mudah dan pasti. Tentu saja ini meningkatkan ketepatan waktu kedatangan masyarakat untuk menikmati pertunjukan musik di kawasan tersebut, terutama saat pertunjukan malam. Bahkan, sejumlah tenant mal mulai menyesuaikan jam layanan untuk menyesuaikan arus pengunjung yang datang lewat jembatan penghubung LRT.
Kelapa Gading pun berubah menjadi kawasan event-friendly, di mana akses venue sama pentingnya dengan kualitas acara itu sendiri. Di titik inilah LRT Jakarta mulai memainkan peran lebih besar, bisa dikatakan sebagai enabler pertumbuhan venue dan ruang publik.
Fase 1B: Membuka Akses Menuju Titik Event yang Lebih Strategis
Dengan hadirnya stasiun-stasiun baru, pola pergerakan kota diprediksi mengalami lompatan. Rawamangun dan Matraman, misalnya, dikenal sebagai koridor kegiatan mahasiswa, komunitas kreatif, hingga pusat olahraga. Sementara Manggarai merupakan simpul raksasa, tempat KRL, TransJakarta, dan nanti LRT saling bertemu.
Integrasi ini menjadikan LRT bukan sekadar jalur tambahan, melainkan tulang punggung konektivitas baru bagi para penyelenggara pameran, pengunjung event, dan pelaku industri MICE yang sering berpindah lokasi dalam satu hari kerja.
Menurut Roberto Akyuwen, Fase 1B ini menjadi kesempatan pihaknya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Jakarta dalam kemudahan bermobilisasi. “Ini momentum untuk menghubungkan tempat-tempat kegiatan warga dengan transportasi cepat dan tepat,” ujarnya.
Dampak bagi Industri MICE
Dari sudut pandang industri MICE, jalur LRT Jakarta menawarkan tiga keuntungan strategis:
- Aksesibilitas pengunjung meningkat
Venue yang terletak di koridor LRT memiliki peluang traffic lebih besar, terutama untuk event reguler seperti pameran komunitas, konser mingguan, atau festival lokal. - Efisiensi logistik kru dan vendor
Kru produksi, EO, atau talenta bisa bergerak lebih efisien tanpa mengandalkan kendaraan pribadi atau ojek daring, terutama untuk event kecil hingga menengah. - Sentralisasi aktivitas publik
Ruang-ruang event yang sebelumnya dianggap “terlalu jauh” dari pusat kota kini menjadi opsi realistis untuk penyelenggara.
Efeknya terasa dari Kelapa Gading hingga Velodrome, yang selama beberapa tahun terakhir rutin menggelar agenda olahraga, festival UMKM, hingga pameran skala komunitas.
Jakarta Bergerak ke Arah Kota Event
LRT Jakarta Fase 1B hadir bukan hanya sebagai perpanjangan rel, melainkan sebagai perpanjangan denyut aktivitas kota. Integrasi dengan pusat perbelanjaan, venue hiburan, dan kawasan kreatif mulai mengubah cara warga Jakarta menikmati acara dan bergerak antar-ruang.
Bagi pelaku MICE, inilah momentum untuk memanfaatkan koridor LRT sebagai jalur emas event tourism perkotaan. Dan bagi warga, ini menjadi tanda bahwa ke depan, pengalaman “jalan-jalan ke pameran” atau “nonton konser spontan” tak lagi harus melewati drama macet dan parkir yang melelahkan.





