Pemanfaatan artificial intelligence (AI) sudah semakin masif dan akrab di berbagai sektor, termasuk dalam bisnis kuliner. PT Esensi Solusi Buana (ESB) merupakan salah satu perusahaan yang mengembangkan pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mendukung bisnis kuliner dengan melahirkan aplikasi asisten AI bernama Olin yang diperkenalkan pada awal 2025.
OLIN, asisten AI pertama untuk bisnis kuliner, bisa mengatur stok, menganalisis transaksi, atau menyesuaikan menu dengan selera pelanggan. Dengan fitur yang lebih baik, OLIN akan membantu memahami kebiasaan pelanggan agar strategi bisnis lebih tepat, dan mencegah stok berlebih atau kehabisan bahan di saat penting. OLIN juga dapat dimanfaatkan untuk personalisasi menu bisnis F&B agar pelanggan semakin loyal, hingga efisiensi untuk mengoptimalkan keuntungan yang bisa meningkatkan omzet hingga 50 persen.
Kehadiran Olin mendapat respons positif dari para pelaku bisnis kuliner Tanah Air. Hingga saat ini tercatat sudah ada 2.000 pengguna merasakan manfaat dari Olin. Kesadaran akan pentingnya adopsi teknologi inilah yang menjadi latar belakang ESB menggelar Founders’ Table Media Luncheon pada 29 Juli 2025.
Mengusung tajuk “Dari Dapur ke Data: Menangkan Persaingan Kuliner Lewat Adopsi AI Sejak Dini”, forum ini memperlihatkan secara langsung bagaimana penerapan AI seperti OLIN mampu menghadirkan efisiensi, sekaligus menciptakan keunggulan kompetitif nyata dalam penggunaannya.
Kegiatan yang dilaksanakan di East Quarter, Grand Indonesia, ini menghadirkan Gunawan, Co-Founder dan CEO ESB; Regan S. Subagio, pemilik restoran Hongkong Bay; dan Ayu Switriani, F&B Director restoran Temuku.
Gunawan menyampaikan bahwa pemanfaatan teknologi AI saat ini bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keniscayaan. “Penggunaan AI hari ini bukan lagi soal mau atau tidak. Suka tidak suka, AI memang sedang, dan akan terus, mengubah cara kita menjalankan bisnis sehari-hari. Jadi pertanyaannya sekarang apakah kita siap bertahan di tengah cara berkompetisi yang sudah berubah total?” ungkapnya.
Pria yang akrab disapa Gun ini menegaskan bahwa AI memang bukan solusi instan, namun manfaatnya akan jauh lebih besar bagi mereka yang memulainya lebih awal. “Semakin cepat kita mulai, semakin cepat pula AI memahami karakter bisnis kita dan memberi insight yang relevan. Karena itu, AI perlu dilihat bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai alat untuk tumbuh bersama, menciptakan sinergi dan membantu bisnis berkembang berdampingan dalam satu ekosistem yang sehat,” jelasnya.
Regan, sebagai pengguna Olin, mengungkapkan penggunaan AI seperti OLIN bukan hanya soal efisiensi, tapi juga memberikan keunggulan kompetitif. “OLIN membantu menganalisis promo yang berjalan dan menunjukkan dampaknya terhadap penjualan. Jadi kami tidak lagi mengandalkan perasaan, tapi data. Ini membuat strategi promosi dan up-selling jadi jauh lebih terarah dan efektif,” kata Regan.
Sejak awal berdiri di 2022, Hongkong Bay sudah mengandalkan sistem ESB sebagai fondasi operasional dan keuangan. Regan mengungkapkan, kesuksesan restoran tak cukup hanya dari rasa, tapi juga dari sistem yang andal. “Fitur-fitur ESB itu seperti harta karun. Melalui sistem ini, saya bisa melihat jam-jam sibuk, bahkan tahu apakah outlet sudah menjalankan resep sesuai standar. Ini bukan cuma sekadar memiliki kontrol, tapi juga menjadi dasar kami dalam menyusun strategi bisnis,” ujar Regan.
Pengalaman yang sama juga diceritakan Ayu Switriani, F&B Director Temuku. Menurut Ayu, peran OLIN dan ESB sebagai fondasi penting dalam pengambilan keputusan dan pertumbuhan bisnis. “OLIN tidak hanya mencatat, tapi memberi kami insight berbasis data. Apa yang perlu ditingkatkan, mana yang bisa dioptimalkan. Ini membantu kami menyusun strategi menu, promosi, dan operasional dengan lebih percaya diri,” katanya.
Lebih lanjut Ayu mengungkapkan, sistem digital bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan kebutuhan dasar. “Kami tahu banyak pelaku usaha masih nyaman dengan cara manual atau ragu soal biaya awal. Tapi justru di tengah tantangan bisnis yang makin kompleks, sistem seperti ESB jadi kunci membangun brand yang konsisten dan siap berkembang.”
Bagi Temuku, adopsi teknologi bukan hanya soal efisiensi, tapi strategi jangka panjang untuk menjaga kualitas dan membuka jalan ekspansi. “Dengan fondasi digital yang solid, kami yakin Temuku bisa melangkah lebih jauh, dari brand lokal yang kuat, menuju daya saing nasional bahkan global,” tutup Ayu.






KOMENTAR
0