Switzerland Tourism terus berkomitmen untuk menciptakan pariwisata berkelanjutan melalui berbagai strategi. Kali ini, Switzerland Tourism melakukan pendekatan Travel Better untuk mendorong wisata sepanjang tahun dan pengalaman perjalanan yang lebih bertanggung jawab di Swiss.
Pendekatan Travel Better dirancang untuk menciptakan pariwisata yang lebih seimbang dan bertanggung jawab. Pendekatan ini berfokus pada lima pilar utama yang akan menjadi panduan bagi industri pariwisata Swiss di masa depan.
Simon Bosshart, Chief Market Officer (East) of Switzerland Tourism, mengatakan bahwa keberlanjutan menjadi cara terbaik untuk berbagai pengalaman terhadap pariwisata Swiss. Melalui Travel Better, ia ingin mengajak wisatawan untuk dapat menikmati Swiss dengan lebih bijaksana dan menjaga kelestarian alam serta lingkungannya.
Pilar pertama yang dihadirkan dalam Travel Better adalah promosi wisata sepanjang tahun. Hal ini untuk memastikan kunjungan para wisatawan dapat tersebar merata di setiap musimnya.
Kedua adalah pengelolaan arus wisatawan untuk menghindari kepadatan dan menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman. Ketiga, mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama agar dapat lebih mendalami budaya dan alam Swiss.
Keempat, mengintegrasikan keberlanjutan di seluruh sektor pariwisata melalui inisiatif Swisstainable. Terakhir, memastikan bahwa pariwisata tetap selaras dengan kesejahteraan komunitas lokal.
“Kami akan pastikan semua makanan yang disajikan di restoran dan hotel daerah pegunungan diproduksi secara lokal. Jadi, semua bahan makanannya berasal dari para petani lokal di Swiss,” ungkap Simon dalam Konferensi Pers dan Buka Puasa Media di Jakarta.
Untuk melancarkan strategi tersebut, Switzerland Tourism, mulai menyebarluaskan Travel Better di berbagai negara dunia salah satunya Indonesia. Berdasarkan data Switzerland Tourism, Indonesia menempati peringkat empat di Asia Tenggara sebagai negara dengan masa menginap terlama di Swiss selama tahun 2024.
“Setelah sekian lama, akhirnya pariwisata kami kembali pulih dan Indonesia menjadi pasar yang besar bagi Swiss. Bahkan, Indonesia mengungguli rata-rata regional sebagai sumber pasar bagi Swiss,” ujar Batiste Pilet, Director for Southeast Asia of Switzerland Tourism.
Data dari Switzerland Tourism menyebutkan bahwa Singapura masih menempati posisi teratas untuk masa menginap ke Swiss sebanyak 227.844 pada tahun 2024. Kemudian disusul dengan Thailand berjumlah 178.761 dan juga Malaysia di urutan ketiga dengan 133.925.
Secara keseluruhan, jumlah tersebut terjadi penurunan hingga 11,6 persen jika dibandingkan tahun 2023 silam. Namun, kawasan Asia Tenggara mencatat pertumbuhan hingga 13,9 persen pada tahun 2024 jika dibandingkan dengan 2019 silam. Hal ini menjadikannya sebagai pasar dengan pemulihan tercepat di wilayah Asia.
“Pasar perjalanan di Asia Tenggara memang sempat mengalami tantangan. Tapi, kami melihat terdapat tren pemulihan yang sangat kuat di kawasan tersebut khususnya Indonesia. Ke depannya pun, kami optimistis dengan pertumbuhan wisatawan Indonesia ke Swiss,” ucap Batiste.






