Switzerland Tourism berkomitmen memperkuat pasar Asia Tenggara termasuk Indonesia untuk membantu meningkatkan pariwisata di negaranya. Berdasarkan data dari Switzerland Tourism, pasar Asia Tenggara selalu menunjukan pertumbuhan positif terutama pada tahun 2023 silam.
Batiste Pilet, Director for Southeast Asia of Switzerland Tourism, mengatakan pasar Asia Tenggara telah melewati banyak perjalanan dan sempat mengalami tantangan. Namun, tantangan tersebut dapat diatasi dengan tren pemulihan pariwisata yang kuat dari negara-negara di Asia Tenggara.
Dalam catatan Switzerland Tourism, telah terjadi penurunan 11,6 persen jumlah wisatawan Asia Tenggara pada 2024 jika dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, secara keseluruhan, kawasan ini mencatat pertumbuhan 13,9 persen dibandingkan 2019 dan menjadikannya pasar dengan pemulihan tercepat di Asia.
“Tahun 2023 memang menjadi peak year Swiss dalam menerima kedatangan wisatawan asing termasuk dari Asia Tenggara. Hal itu yang membuat adanya penurunan pada 2024 kemarin,” kata Ferani Heng, Market Representative Indonesia of Switzerland Tourism saat ditemui di Jakarta.
Menurut Ferani, 2023 menjadi puncaknya kedatangan wisatawan Asia Tenggara ke Swiss karena didasari beberapa alasan. Salah satu alasan utamanya adalah Swiss merupakan negara pertama yang membuka pintu pariwisata pasca pandemi Covid-19.
“Setelah Covid-19, Swiss menjadi negara pertama yang membuka bordernya, makanya banyak wisatawan asing datang ke sana. Tahun 2024 memang tidak setinggi 2023, tetapi, kami optimistis bisa meningkatkan lagi khususnya untuk wisatawan dari Indonesia,” ucapnya lagi.
Secara keseluruhan, Asia Tenggara menempati peringkat ke-4 sebagai penyumbang wisatawan terbanyak ke Swiss. Tak heran jika Switzerland Tourism selalu memberikan usaha terbaiknya untuk wisatawan asal Asia Tenggara termasuk Indonesia.
“Di world wide, Asia Tenggara masuk peringkat empat. Pertama itu turis lokal kemudian disusul turis dari Amerika dan lainnya,” Ferani menambahkan.
Dalam hal ini, Batiste, membagikan daftar negara Asia Tenggara yang menjadi penopang pariwisata tertinggi ke Swiss. Dari segi lama menginap, wisatawan asal Singapura menduduki peringkat pertama yang kemudian disusul Thailand, Malaysia, dan Indonesia sebagai juara empat pada tahun 2024.
“Indonesia menjadi pasar yang besar bagi Swiss. Bahkan, Indonesia mengungguli rata-rata regional sebagai sumber pasar bagi Swiss dengan lama menginap 113.442,” ujar Batiste.
Pada urutan pertama, Singapura menyumbang 227.844 wisatawan yang bermalam di Swiss pada tahun 2024. Kemudian disusul dengan Thailand berjumlah 178.761 dan juga Malaysia di urutan ketiga dengan 133.925.
Hasil tersebut menjadi acuan bagi Switzerland Tourism untuk lebih meningkatkan jumlah wisatawan asal Asia Tenggara khususnya Indonesia. Beberapa strategi telah diupayakan salah satunya memperkenalkan destinasi baru dan memperbanyak wisata ramah muslim.
“Kami optimistis dengan memperkenalkan destinasi baru termasuk yang belum banyak dikenal dapat menumbuhkan jumlah wisatawan asal Indonesia,” tutup Batiste.





