Turis di Asia Pasifik Turun 32 Persen Pada 2020

Thursday, 23 April 20 Harry Purnama
Hong Kong Tourism Board

Karena adanya pandemi COVID-19 di seluruh dunia, PATA (Pacific Asia Travel Association) memprediksi jumlah wisatawan internasional yang masuk dan bergerak di Asia Pasifik pada tahun 2020 akan turun 32 persen atau sekitar hanya 500 juta perjalanan.

Angka tersebut sama seperti pencapaian di tahun 2012. Jika melihat kondisi saat ini, diperkirakan pertumbuhan wisatawan internasional baru mulai naik pada 2021, dan baru pada 2023 akan sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Namun, hal tersebut tergantung dari seberapa cepat penanganan pandemi COVID-19.

Skenario yang lebih optimistis menyatakan bahwa penurunan wisatawan internasional hanya 16 persen di tahun ini, sedangkan skenario pesimistis menyatakan angka yang lebih besar, yakni 44 persen.

Dampak terbesar akan dirasakan oleh wilayah Asia Utara yang diprediksi akan kehilangan sekitar 51 persen kunjungan turis, diikuti oleh Asia Selatan dengan penurunan 31 persen, serta Asia Tenggara dengan penurunan 22 persen. Asia Barat hanya mengalami penurunan enam persen, diikuti wilayah Pasifik dengan 18 persen.

Dampak dari COVID-19 juga terjadi dalam hal penerimaan devisa, yang diperkirakan turun 27 persen pada tahun 2020 menjadi US$594 miliar, jauh di bawah target yang sekitar US$811 miliar.

Wilayah Asia diprediksi kehilangan lebih dari US$170 miliar (-36%), yang mayoritas terjadi di Asia Utara dan Timur dengan nilai lebih dari US$123 miliar (-48%), disusul oleh Asia Selatan dengan US$13,3 miliar (-33%), dan Asia Tenggara dengan US$34,6 miliar (-20%). Sementara regional Pasifik akan kehilangan devisa US$18 miliar (-18%).

Dr. Mario Hardy, CEO PATA, mengatakan, “Ini tragedi yang terbesar dan pertama, dengan banyaknya manusia yang meninggal serta ekonomi yang turun, serta masih banyak lagi yang sedang dikarantina. Kami hanya bisa berharap pandemi ini cepat ditangani sehingga industri pariwisata dunia bisa kembali pulih, serta orang-orang kembali mendapatkan pekerjaannya dan menciptakan peluang kerja baru bagi banyak sektor.”

“Meski terjadi penurunan kunjungan wisatawan, masih ada sejumlah turis yang datang ke Asia Pasifik pada 2020 dengan jumlah di bawah 500 miliar orang dan menghasilkan devisa sebesar US$600 miliar. Namun, persepsi orang akan sulit diubah sehingga akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk meyakinkan mereka agar mau berwisata kembali. Jika jumlah wisatawan yang tumbuh sangat pelan, hal yang harus dilakukan adalah memberikan insentif sehingga para wisatawan mau tinggal lebih lama di destinasi tersebut,” ujar Hardy.