Perubahan Perilaku Konsumen dan Wisatawan Gara-Gara COVID-19

Thursday, 23 April 20 Herry Drajat
Taman Sukasada Ujung Karangasem
Wisatawan asing mengunjungi Istana Air Taman Sukasada Ujung, Karangasem, Bali. Foto: Venuemagz/Harry

Wabah virus Corona secara tak langsung telah mengubah perilaku konsumen di Indonesia. Yuswohady, pakar marketing dan branding, mengatakan, perilaku tersebut akan menjadi new normal setelah COVID-19 ini berakhir.

Dalam webinar berjudul “Consumer Behavior Shiftings Amid The COVID-19” yang berlangsung pada 20 April 2020, Yuswohady menjelaskan ada empat perilaku konsumen yang baru tersebut. Yang pertama adalah Stay @Home Lifestyle, yakni gaya hidup baru tinggal di rumah dengan aktivitas working-living-playing karena adanya imbauan untuk tetap berada di rumah saja. Gaya hidup ini juga menciptakan stay at home business.

Yang kedua adalah Back to the Bottom of the Pyramid. Mengacu pada piramida Maslow, konsumen kini bergeser kebutuhannya dari puncak piramida—yaitu aktualisasi diri dan esteem—ke dasar piramida, yakni kebutuhan fisiologi yang berhubungan dengan fisik, di antaranya adalah makan, kesehatan, serta keamanan jiwa-raga.

Perilaku yang ketiga adalah Go Virtual. Dengan adanya COVID-19 dan imbauan untuk tetap berada di rumah, konsumen beralih menggunakan media virtual/digital untuk memenuhi aneka kebutuhannya.

Yang terakhir adalah Empathic Society. Banyaknya korban akibat COVID-19 melahirkan masyarakat baru yang penuh empati, welas asih, dan sarat solidaritas sosial.

Wisatawan Gaya Baru

Pergeseran perilaku tersebut juga terjadi pada saat berekreasi. Menurut Yuswohady, setelah COVID-19 berakhir, travelling menjadi hal teratas yang akan diburu konsumen. Bahkan, hasil survei yang dilakukan oleh Alvara Research Center menunjukkan bahwa sebanyak 21,8 persen responden mengatakan akan pergi ke tempat wisata setelah COVID-19 usai, diikuti 19 persen responden memilih bekerja, dan 13,9 persen memilih untuk bersilaturahmi dengan keluarga atau teman.

Dengan ancaman COVID-19 yang masih terus mengintai, maka para wisatawan tidak bisa bebas bepergian ke destinasi-destinasi wisata seperti sebelumnya. Tentu saja mereka tetap berlibur tapi dalam dengan menerapkan prinsip kehati-hatian agar tak terpapar virus Corona.

Menurut Yuswohady, staycation atau berlibur di dalam lingkungan hotel akan menjadi pilihan terbaik. Untuk keluarga, berlibur dengan kendaraan pribadi akan semakin populer, dan wisata kesehatan makin banyak peminat.

Kemungkinan besar wisata bentuk baru, yaitu virtual tourism, akan mulai muncul dengan memanfaatkan virtual/augmented reality, meskipunmemang belum bisa menandingi keunggulan berwisata secara langsung.

Dengan gaya berwisata yang akan berubah, para pelaku pariwisata juga harus mengubah pendekatan dan strategi berdasarkan perubahan perilaku yang baru. “Preferensi liburan akan bergeser ke alternatif liburan yang tidak banyak orang lakukan, seperti staycation, solo travel tour, wellness tour, juga virtual tourism,” ujar Yuswohady.