Turis Jerman Sudah Siap Wisata ke Bali

Friday, 05 June 20 Bonita Ningsih
Garuda Wisnu Kencana
Bali masih menjadi destinasi utama yang diminati wisatawan mancanegara. Foto: Venuemagz/Erwin

Pemerintah Indonesia telah merencanakan Bali sebagai pilot destination dalam penerapan program CHS (Cleanliness, Health, dan Safety) menjelang new normal. Rendahnya kasus COVID-19 di Bali menjadi salah satu alasan mengapa pemerintah pusat ingin menjadikan Bali sebagai daerah percontohan skema new normal.

Berbagai persiapan seperti protokol kesehatan tengah disiapkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah setempat menuju Bali new normal. Pelaku usaha pariwisata juga diminta untuk segera mempersiapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) di tempatnya agar dapat meminimalisir penyebaran COVID-19 saat pelaksanaan new normal.

“Upaya new normal sudah kita siapkan dan beberapa tahapan penting di dalamnya sudah disetujui oleh Bapak Presiden. Tetapi, sebelum mengesahkan aturan ini, kita juga harus bicarakan kepada pemerintah setempat, seperti Gubernur dan lainnya,” kata Wishnutama Kusubandio, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Persiapan Bali menuju new normal ternyata mendapat respons positif dari calon wisatawan, khususnya mancanegara. Salah satunya telah ditunjukkan oleh masyarakat negara Jerman yang sangat menantikan pariwisata di Bali segera dibuka.

BACA JUGA:   Uji Coba Digitalisasi Perizinan Event Dilakukan di Enam Venue Terpilih

H.E Arif Havas Oegroseno, Duta Besar Indonesia di Jerman, mengatakan, saat ini kondisi di Jerman sudah berangsur membaik. Menurutnya, pemerintah setempat telah memaksimalkan protokol kesehatannya agar dapat menekan laju penyebaran COVID-19 di Jerman. Hingga saat ini, tingkat kesembuhan di Jerman sudah mencapai 91 persen dan mampu mengalahkan negara Belgia, Perancis, Italia, dan Spanyol.

“Kondisi Jerman sangat luar biasa, di sini pemerintah tidak mau hanya dengan rapid test, tetapi langsung PCR test. Prosesnya pun sangat cepat, tes jam 11.00 lalu jam 17.00 hasilnya sudah keluar,” jelas Arif saat Webinar Session 3 Road Map to Bali’s Next Normal melalui aplikasi Zoom.

Dengan kondisi yang semakin membaik, membuat gairah masyarakat Jerman untuk berwisata semakin tinggi. Menurutnya, banyak di antara mereka yang sudah bosan berada di rumah dan segera ingin melakukan perjalanan wisata. Dari banyaknya pilihan destinasi wisata, Indonesia menjadi salah satu negara yang akan dipilih masyarakat Jerman untuk berwisata.

Berdasarkan data yang diterima Arif, 4,5 persen turis Jerman lebih memilih Asia sebagai tempat tujuan untuk berwisata. Dari angka tersebut, Indonesia telah berhasil menyerap 50 persennya sehingga menjadi tujuan utama turis Jerman saat berlibur di wilayah Asia.

BACA JUGA:   ITDC Selesaikan Pembangunan Kawasan MICE Golo Mori

“Beberapa survei juga menyebutkan bahwa input pasar Eropa sangat kencang di Indonesia, terutama dari Jerman. Data tahun lalu saja menyebutkan ada kurang lebih 2,8 juta turis dari Jerman yang datang ke Indonesia, dan Bali menjadi destinasi utamanya,” ucapnya lagi.

Tingginya antusias masyarakat Jerman ke Bali ditanggapi dengan baik oleh pemerintah setempat dan para pelaku usaha pariwisata. Namun, untuk saat ini, pemerintah provinsi Bali masih belum mau membuka akses pariwisatanya, khususnya bagi turis mancanegara.

Ida Bagus Agung Partha Adnyana, Ketua Bali Tourism Board, menjelaskan, hal tersebut menjadi pilihan yang tepat melihat kondisi Bali saat ini. Menurutnya, bulan Juni menjadi puncak tertinggi penyebaran COVID-19 di Bali sehingga pemprov setempat belum berani membuka akses pariwisatanya.

“Saat ini yang kami lihat kurva penyebaran COVID-19 di Bali agak naik, jadinya kami harus hati-hati dan berpikir super cermat. Jadi, yang dapat kami lakukan saat ini ialah menghitung plus minusnya jika harus membuka pariwisata sekarang,” ungkap Agung.

BACA JUGA:   Bisnis Kapal Pesiar Mulai Pulih, Pelaku Usaha Mulai Genjot Pasar MICE

Jika sesuai prediksi, puncak penyebaran COVID-19 akan terjadi pada minggu kedua bulan Juni dan akan berakhir pada akhir Juni 2020. Oleh karenanya, untuk saat ini yang dapat dilakukan pemerintah dan pelaku usaha pariwisata ialah mempersiapkan protokol kesehatan dengan matang dan terperinci.

“Secara teknis kita sudah siap karena setiap hari selalu kita bicarakan dengan Pak Wakil Gubernur. Banyak pihak yang sudah meminta Bali untuk segera membuka wisatanya, tetapi di sini kita harus mengedepankan faktor kesehatan dan keamanan terlebih dahulu, baru masalah ekonomi,” jelasnya lagi.