Banyuwangi Bersiap Menyambut Gaya Baru Milenial dalam Berwisata

Wednesday, 06 May 20 Bonita Ningsih
Foto: Venuemagz/Erwin

Beberapa waktu lalu, MarkPlus Tourism mengeluarkan data survei terkait pariwisata pasca-pandemi COVID-19. Hasil survei menyebutkan, pasca-pandemi ini kaum milenial akan lebih suka melakukan wisata domestik dengan pilihan destinasi berupa kuliner dan kegiatan petualangan atau outdoor.

Hasil survei tersebut menjadi pedoman pemerintah pusat maupun daerah dalam menghadapi perubahan perilaku para wisatawan pasca-COVID-19. Seperti halnya yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Banyuwangi.

Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi, menyambut baik hasil survei yang dilakukan MarkPlus Tourism. Menurutnya, masyarakat saat ini cenderung lebih tertarik berkunjung ke wisata alam ketimbang wisata di tempat tertutup.

“Ini yang menarik, awal-awal corona masuk saja, masih banyak orang yang mau naik ke Ijen, meskipun pada akhirnya harus ditutup sama pemerintah. Tapi, dari sini terlihat bahwa orang-orang itu sebenarnya banyak yang tertarik untuk wisata alam karena ingin mendapatkan kebebasan di sana,” kata Anas.

Melihat kondisi tersebut, saat ini Anas tengah mempersiapkan daerahnya untuk menyambut kembali para wisatawan, khususnya bagi yang ingin melakukan kegiatan outdoor. Apalagi, Banyuwangi saat ini dikenal sebagai daerah dengan destinasi wisata alam yang indah, seperti pegunungan, air terjun, hingga pantai.

“Tren milenial akan berubah, lebih ke alam dan outdoor. Dari hasil survei tersebut, daerah harus punya konsistensi untuk menghadapi itu ke depannya. Misalnya dengan cara memperkuat yang sudah ada, atau memperbaiki yang kurang baik,” jelas Anas.

Ia mencontohkan, setiap daerah harus memiliki sarana dan prasarana terbaik menuju destinasi wisata alam tersebut. Infrastruktur menjadi hal utama yang harus diperhatikan agar akses menuju ke destinasi wisata tersebut dapat dilalui dengan baik.

“Ini yang harus diperhatikan, bagaimana ke depannya daerah-daerah lain juga dapat mempersiapkan ini semua mulai dari sekarang. Pemerintah pusat juga harus lebih melihat, daerah mana yang memang memiliki daya tarik alam yang kuat sehingga perlu diberikan perhatian yang lebih saat ini,” ujarnya lagi.

Anas mengatakan, di Banyuwangi, seluruh pembangunan infrastruktur ke destinasi alam sudah berjalan dengan baik. Beberapa pelebaran jalan juga masih terus dilakukan, meskipun daerahnya harus realokasi anggaran sebesar Rp54 miliar untuk kebutuhan COVID-19.

“Kami di Banyuwangi masih bisa sedikit bernapas karena kami masih mendapat banyak insentif untuk melakukan pembangunan tersebut. Jadi, saat ini, pelebaran jalan masih kami jalankan, terutama untuk akses ke wisata alam,” dia menambahkan.

Terkait hal ini, salah satu pelaku outdoor tourism, yakni Disyon Toba, meminta pemerintah daerah untuk membuat langkah konkret dalam menghadapi tren wisata pasca-pandemi, yakni wisata alam. Tidak hanya memerhatikan infrastrukturnya, tetapi juga dari segi fasilitas di setiap destinasi outdoor.

Ia bercerita, saat ini masih banyak wisata alam yang belum tersentuh oleh wisatawan lantaran tidak memiliki fasilitas menarik di dalamnya. Padahal, dengan membangun fasilitas pendukung di destinasi tersebut, dapat menambah jumlah wisatawan yang berkegiatan outdoor di Indonesia.

“Penanganan wisata alam di sini dan di luar negeri itu berbeda. Kalau di sana, wisata alam ya dijual apa adanya. Tetapi, kalau di Indonesia harus ada sedikit fasilitas di dalamnya. Misalnya saja dengan membangun jembatan, yang nantinya bisa digunakan untuk foto-foto. Itu menjadi hal menarik bagi wisatawan domestik,” kata Disyon yang juga menjabat Chief Executive Officer COS Event.