Menelusuri Sejarah Kota Lama Pekanbaru dengan Berjalan Kaki

Thursday, 06 June 19 0 Comments   Bonita Ningsih

Bagi Anda yang suka wisata sejarah, kota Pekanbaru, Riau, wajib menjadi salah satu destinasi yang dikunjungi bersama keluarga dan kerabat. Di sana, Anda dapat menggunakan jasa Pekanbaru Heritage Walk (PHW) untuk berjelajah sambil belajar sejarah di Kota Pekanbaru, Riau.

Pekanbaru Heritage Walk merupakan sebuah komunitas yang mengajak banyak orang untuk mengenal kawasan bersejarah di Pekanbaru. Komunitas yang didirikan pada 11 Maret 2017 ini diinisiasi oleh lima anak muda yang memiliki semangat untuk memperkenalkan sejarah Pekanbaru ke khalayak luas.

PHW akan mengajak Anda untuk belajar sejarah di kota ini sambil menikmati indahnya langit Pekanbaru dengan berjalan kaki. Akan ada beberapa destinasi yang dapat disinggahi bersama PHW, berikut ini sedikit penjelasan dari destinasi-destinasi tersebut.

  • Rumah Singgah Sultan Siak

Destinasi pertama yang akan dijelajahi ialah Rumah Singgah Sultan Siak. Akan ada anggota PHW yang menunggu di sana untuk mengarahkan rombongan ke tempat-tempat yang akan dituju sambil bercerita mengenai sejarahnya.

Rumah Singgah ini didirikan pada 1895 oleh H. Nurdin Putih. Bangunan beratap biru ini terletak di tepi sungai Siak, tepatnya di bawah Jembatan Siak III. Bentuknya seperti rumah panggung karena itu untuk menuju pintu masuk harus melalui beberapa anak tangga.

Untuk berkunjung ke Rumah Singgah ini, para pengunjung diwajibkan melepas alas kaki. Riski Ramadani, salah satu anggota PHW, mengatakan, hal tersebut menjadi salah satu adab yang sudah dilakukan sejak zaman dulu. Bahkan, disediakan wadah khusus yang berisikan air untuk mencuci kaki para tamu yang ingin singgah di rumah tersebut.

  • Terminal Lama Pekanbaru

Tidak jauh dari Rumah Singgah Sultan Siak, tepatnya sisi kiri Jembatan Siak III, Anda akan melihat bangunan berwarna biru pudar yang merupakan bagian tersisa dari terminal lama Pekanbaru. Bangunan yang tidak terlalu besar ini masih berdiri kokoh dan menjadi saksi bisu warga sekitar bahwa dulunya terdapat aktivitas terminal bus yang membawa penumpang menuju Sumatera Barat, Duri, hingga Dumai.

  • Rumah Tenun Kampung Bandar

Setelah menyisir dua bangunan di dekat Jembatan Siak III, Anda akan diajak ke sebuah bangunan yang dinamakan Rumah Tenun Kampung Bandar. Dulunya, rumah ini merupakan kediaman keluarga H. Yahya yang didirikan pada 1887 silam. Rumah ini juga menjadi saksi perjuangan kemerdekaan Indonesia lantaran pernah menjadi gudang logistik dan dapur umum di masa awal perang kemerdekaan.

Saat ini, rumah yang berlokasi di Kampung Bandar dimanfaatkan oleh ibu-ibu dan remaja putri untuk memproduksi kain tenun. Mereka menenun menggunakan alat tradisional yang masih mengandalkan tangan dan kaki saat proses produksi.

Proses produksinya pun tidak mudah, butuh waktu berhari-hari untuk mendapatkan karya yang indah. Misalnya saja, untuk pembuatan satu selendang tenun diperlukan waktu paling cepat tiga hari. Tidak salah jika mereka mematok harga tinggi untuk hasil tenunnya, yakni mulai dari Rp100.000 hingga jutaan rupiah.

  • Gudang Garam

Setelah puas melihat-lihat proses pembuatan tenun di rumah tenun Kampung Bandar, Anda akan diajak menyusuri beberapa ruas kota Pekanbaru dengan berjalan kaki. Selanjutnya, Anda akan diajak ke sebuah bangunan yang digunakan sebagai gudang garam.

Jika Anda beruntung, PHW akan membawa Anda ke dalam gudang untuk melihat proses pembuatan garam. Namun, jika Anda tidak bisa masuk ke dalamnya, Anda dapat memanfaatkan sisi luar bangunan yang merupakan sisa bangunan tempo dulu di Pekanbaru. Gudang garam ini menawarkan sisi artistik di bagian luarnya sehingga bagus untuk berfoto.

  • Kedai Kim Teng Lama

Puas berfoto di depan bangunan gudang garam, PHW akan mengajak Anda ke sebuah bangunan yang menjadi sejarah terbentuknya kedai kopi Kim Teng, yang menjadi legendaris di Pekanbaru. Saat ini, bangunan ini sudah tidak digunakan untuk kedai kopi sehingga di sekeliling halaman sudah tidak tertata rapi dan banyak semak belukar. Kendati demikian, tempat ini menjadi salah satu destinasi dari komunitas ini lantaran tempat ini dulunya menjadi awal mula kejayaan kedai kopi Kim Teng.

  • Pelabuhan Pelindo

Perjalanan PHW bergeser ke Pelabuhan Pelindo yang dibangun Belanda pada 1920 silam. Dulunya, pelabuhan ini menjadi pusat perdagangan dari Pekanbaru ke Singapura. Berbagai macam barang dan komoditas keluar masuk melalui pelabuhan ini.

  • Tugu Nol Kilometer

Dekat dengan Pelabuhan Pelindo, Anda akan melihat tugu nol kilometer. Di tahun yang sama pembuatan Pelabuhan Pelindo, Belanda membangun tugu ini sebagai penanda pembuatan jalan penghubung antara Pekanbaru–Bangkinang–Payakumbuh.

Tugu nol kilometer ini memiliki peran penting dalam proses perdagangan di Pelabuhan Pelindo. Semua barang dan komoditas yang akan dibawa ke Singapura, dikumpulkan di titik nol kilometer.

  • Kompleks Makam Marhum Pekan dan Masjid Raya Pekanbaru

Lokasi Kompleks Makam Marhum Pekan bersebelahan dengan Masjid Raya Pekanbaru. Kompleks makam yang terletak di Kampung Bandar Kecamatan Senapelan ini dijadikan cagar budaya oleh pemerintah Pekanbaru, Riau.

Di dalam Kompleks Makam Merhum Pekan terdapat makam dari pendiri Kota Pekanbaru bersama keluarga dan kerabat dekatnya. Mereka yang dimakamkan di kawasan ini berasal dari keluarga Kerajaan Siak yang kemudian memerintah di Pekanbaru.

  • Istana Hinggap

Istana Hinggap merupakan sebutan lain dari Rumah Tuan Qadhi. Tuan Qadhi adalah H. Zakaria Bin Abdul Muthalib yang merupakan orang kepercayaan Sultan Syarif Kasim II yang menjadi penasihat Sultan bidang keagamaan.

Rumah yang didirikan pada awal 1900 ini sempat dijadikan tempat menginap bagi Sultan Siak saat Beliau berkunjung ke Pekanbaru. Oleh karenanya, rumah ini juga biasa disebut dengan Istana Hinggap. Bahkan, pemilik rumah memberikan kamar khusus untuk Sultan agar dapat menginap dengan nyaman.

Sesuai namanya, Pekanbaru Heritage Walk menjadikan rumah ini sebagai tempat singgah dan istirahat sejenak bagi peserta atau rombongan yang dibawa oleh PHW. Biasanya, PHW akan membawa rombongan ke sini saat siang hari, bertepatan dengan makan siang.

Pemilik rumah saat ini yang merupakan ahli waris dari Tuan Qadhi menyiapkan berbagai menu makanan untuk disantap para tamu. Menu yang disajikan bervariasi, seperti ikan bumbu kuning, ayam kecap, telur balado, tahu, tempe, sayur, dan yang paling spesial adalah menu sambalnya.

Namun, ketika waktu jelajah dilakukan pada pagi hari, PHW akan mengajak sarapan di Kedai Kopi Segar, yang merupakan kedai kopi milik anak Bapak Kim Teng. Setelah itu, PHW akan membawa Anda untuk berkunjung ke Toko Roti Senapelan yang sudah ada sejak 1960.

Riski Ramadani mengatakan, waktu jelajah yang dilakukan PHW dapat disesuaikan dengan jadwal peserta rombongan. Rute lokasi yang dituju pun terbilang fleksibel, tergantung kondisi saat di lapangan.

Kehadiran PHW membawa satu hal positif terhadap wisata Pekanbaru. Dani, begitu sapaan akrabnya, mengatakan, kehadiran PHW diharapkan dapat memajukan kawasan kota lama Pekanbaru menjadi culture center baru. Dia juga berharap akan semakin banyak orang-orang yang kreatif berkumpul dan berdiskusi bersama Pekanbaru Heritage Walk.

“Ini merupakan visi kami dari PHW. Dapat berkumpul, berdiskusi, dan kolaborasi bersama banyak orang untuk membuat pojok-pojok literasi, pementasan, dan acara lainnya,” ujar Dani.

Tertarik menggunakan jasa Pekanbaru Heritage Walk untuk wisata sejarah di Pekanbaru? Anda bisa menghubunginya melalui sosial media yang mereka punya, yakni instagram @pkuheritage.