Jakarta, Venuemagz.com – Di tengah percepatan transisi energi global, posisi Indonesia dalam industri baterai dunia ikut bergerak ke babak baru. Jika selama ini Indonesia dikenal sebagai pemasok bahan baku, hari ini arahnya berkembang: membangun ekosistem industri baterai dari hulu hingga hilir. Bukan hanya untuk memperkuat industri nasional, tetapi juga untuk menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat rantai pasok kendaraan listrik dan penyimpanan energi di Asia.
Bagi Indonesia kini, baterai tidak lagi dipandang sekadar sebagai komponen pendukung, tetapi sudah menjadi fondasi penting dalam masa depan energi nasional. Didukung cadangan nikel yang mencapai sekitar 1,6 juta ton, serta meningkatnya investasi di sektor kendaraan listrik dan battery energy storage system (BESS), Indonesia menjelma sebagai salah satu pemain penting dalam rantai pasok baterai lithium-ion global.
Ditambah, pasar baterai Indonesia pada 2024 tercatat bernilai sekitar US$1,45 miliar dan diproyeksikan terus tumbuh hingga 2030 dengan pertumbuhan mencapai 23,7 persen. Pasar BESS pun diperkirakan meningkat dari US$4,36 miliar menjadi US$15,82 miliar pada 2032. Untuk mendukung transisi energi ini, Presiden RI akan fokus pada percepatan program melalui target 100 Gigawatt pembangunan PLTS untuk mempercepat kemandirian energi dan penggunaan energi bersih.
Momentum inilah yang melatarbelakangi hadirnya kembali The Battery Show Asia – Indonesia 2026, yang akan berlangsung pada 2-5 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, sebagai bagian dari rangkaian besar Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series 2026. Memasuki edisi keduanya, pameran ini hadir sebagai ruang pertemuan bagi seluruh rantai industri baterai – mulai dari produsen sel baterai, battery pack assemblers, sistem manajemen baterai (BMS), energy storage system, battery recycling, hingga integrasi dan perluasan infrastruktur kendaraan listrik serta solusi energi terbarukan.
Lebih dari sekadar menampilkan teknologi terbaru, The Battery Show Asia – Indonesia juga menjadi tempat bertemunya investor, pelaku manufaktur, regulator, asosiasi industri, hingga institusi riset yang sama-sama melihat baterai sebagai bagian penting dari masa depan energi.
Nama penting seperti Perkumpulan Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI) dan National Battery Research Institute (NBRI) pun telah memastikan keterlibatan aktif mereka. Di sinilah diskusi tentang investasi, efisiensi produksi, keamanan baterai, hingga kesiapan sumber daya manusia akan berlangsung dalam konteks nyata.
Sebagai bagian dari kesatuan ekosistem yang lebih luas, The Battery Show Asia – Indonesia juga akan diselenggarakan bersamaan dengan pameran Electric & Power Indonesia serta Data Center Asia – Indonesia. Ketiga pameran yang berada di bawah payung Energy Week – IEE Series 2026 ini membentuk satu rangkaian industri yang saling terhubung, mulai dari pembangkitan energi, penyimpanan daya, hingga sistem digital yang mengelola dan mengoptimalkan operasionalnya.
Menurut Hanung Hanindito, Deputy Event Director Pamerindo Indonesia, perkembangan industri baterai saat ini menunjukkan bahwa batas antara sektor energi, manufaktur, dan teknologi semakin tipis. “Hari ini kita tidak lagi berbicara tentang baterai hanya sebagai produk, tetapi sebagai bagian dari strategi industri nasional. Dari kendaraan listrik, renewable energy, hingga sistem penyimpanan data untuk kebutuhan industri, semuanya membutuhkan ekosistem yang terhubung. Melalui The Battery Show Asia – Indonesia, kami ingin menghadirkan ruang yang mempertemukan seluruh rantai nilai tersebut agar kolaborasi, investasi, dan inovasi bisa tumbuh lebih cepat. Sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” ujarnya.
Selain area pameran, rangkaian acara ini juga akan diperkuat melalui berbagai forum industri melalui seminar-seminar yang akan diselenggarakan di TBSI Stage sepanjang pameran. Pembahasan pertama akan memaparkan posisi industri baterai Indonesia dalam lanskap industri baterai global serta perannya dalam transisi energi kawasan. Mengangkat tema Indonesia’s Role in the Global Battery Supply Chain – Indonesia as a Regional Hub for Renewable Energy, diskusi juga akan membahas solusi-solusi keamanan dan efisiensi baterai.
Diskusi kemudian berlanjut melalui kerja sama dengan berbagai pihak untuk membahas isu yang lebih teknis dan relevan di lapangan. Mengangkat tema Thermal Management in Batteries: Ensuring Safety in Indonesia’s Tropical Climate, diskusi ini akan membahas pengelolaan baterai kendaraan listrik di Indonesia secara spesifik.
Forum berikutnya akan membahas bagaimana daur ulang dan ekonomi sirkuler bisa dilaksanakan di industri baterai. Dengan membawa tema Sustainable Battery Development: Recycling and Circular Economy in Indonesia, diharapkan topik ini secara lebih lanjut akan mendorong investasi terkait pengelolaan dan regulasi dari pengelolaan sampah baterai di Indonesia.
Terakhir, TBSI akan mengangkat topik terkait peran sumber daya manusia melalui topik Sustainable Battery Development: Building Indonesia’s Battery Workforce for the Energy Transition, demi menangkap peluang terkait perkembangan industri baterai dan bagaimana dunia pendidikan bisa menyiapkan talenta-talenta tersebut.
Setelah sukses dengan penyelenggaraan The Battery Show Asia di Hong Kong pada 10-12 Maret 2026, The Battery Show Asia – Indonesia diharapkan juga bisa menjadi ruang diskusi strategis bagi kemajuan industri baterai nasional. Pameran The Battery Show Asia di Hong Kong sendiri sukses mempertemukan 200 peserta pameran, memamerkan lebih dari 1.000 teknologi dan produk mutakhir, serta menarik lebih dari 15.000 pembeli profesional dari 103 negara.




