Samarinda, Venuemagz.com – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Nasional, Festival Aura Mahakam resmi digelar pada 10 Januari 2026 di Teras Samarinda, Kalimantan Timur. Festival ini hadir sebagai bentuk upaya mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga kelestarian Lanskap Mahakam, salah satu kawasan ekologis strategis di Indonesia.
Lanskap Mahakam memiliki luas lebih dari 77.000 kilometer persegi yang mencakup ekosistem hutan tropis, sungai, rawa, dan danau. Berbagai habitat dari spesies dilindungi juga berada di Lanskap Mahakam seperti pesut Mahakam, orangutan, dan burung enggang, serta beragam flora dan fauna endemik.
Kawasan ini juga menjadi ruang hidup 27.923 jiwa masyarakat adat dari berbagai sub-suku Dayak, antara lain Busang, Kenyah, Kayan, Bahau, Penihing, dan Modang, yang tersebar di 49 kampung. Bagi Masyarakat Adat, Mahakam memiliki nilai ekologis, sosial, budaya, dan spiritual yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka.
Namun, beberapa tahun terakhir Lanskap Mahakam menghadapi tekanan serius akibat deforestasi, aktivitas pertambangan, ekspansi perkebunan kelapa sawit, serta hutan tanaman industri. Kerusakan hutan di wilayah hulu berdampak langsung pada meningkatnya risiko banjir di wilayah hilir, penurunan kualitas air, serta menyusutnya ruang hidup satwa liar dan masyarakat.
Kondisi tersebut menegaskan urgensi perlindungan lanskap Mahakam melalui pendekatan kolaboratif lintas sektor dan lintas generasi. Oleh sebabnya, Festival Aura Mahakam 2026 dihadirkan untuk mengangkat isu krisis ekologis di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam serta mendorong perlindungan sungai dan hutan sebagai sumber kehidupan masyarakat Kalimantan Timur.
Festival Aura Mahakam juga menjadi bagian dari kampanye Aura Mahakam yang diluncurkan secara digital pada September 2025. Kampanye ini fokus melibatkan generasi muda khususnya di kawasan perkotaan sekitar Mahakam seperti Samarinda dan Balikpapan.
Visual Artist yang terlibat dalam kampanye Aura Mahakam 2026, Hari Merdeka, mengatakan bahwa Mahakam hadir bukan sekadar sebagai bentang alam, melainkan ruang hidup yang rapuh dan membutuhkan perlindungan bersama. Oleh sebabnya, Mahakam dihadirkan dalam sebuah karya seni yang dapat membangun kesadaran publik terhadap krisis lingkungan di Mahakam.
“Seni seperti mural juga bisa menjadi medium untuk mengekspresikan kepedulian, membangun solidaritas, serta menyuarakan kritik terhadap model pembangunan yang tidak berkelanjutan,” ujar Hari.

Dalam festival ini, seni juga menjadi salah satu medium utama untuk menyampaikan pesan ekologis bagi generasi muda, komunitas adat, seniman, serta masyarakat sipil. Mereka juga diminta untuk menyuarakan komitmen bersama melalui Deklarasi Orang Muda untuk Mahakam yang berisikan tuntutan dan harapan terhadap masa depan Lanskap Mahakam yang adil, lestari, dan berkelanjutan.
Deklarasi Orang Muda dibacakan secara langsung pada acara puncak festival sebagai bentuk pernyataan sikap generasi muda terhadap krisis ekologis yang terjadi di lanskap tersebut. koordinator Festival Aura Mahakam, Ridho Pratama, menegaskan deklarasi ini merupakan pernyataan sikap dari generasi muda yang menolak untuk bersikap diam akan kerusakan hutan dan kriminalisasi terhadap pejuang pembela lingkungan yang berdampak pada hilangnya masa depan mereka
“Kami tidak ingin hanya menjadi saksi, tetapi kami juga ingin dilibatkan sebagai pelaku perubahan, dan ikut mengambil keputusan dalam menentukan nasib Mahakam, karena Mahakam bukan semata-mata sebuah sungai, melainkan rumah dan sumber kehidupan untuk kami,” jelas Ridho.
Tak hanya itu, deklarasi ini juga menegaskan kesiapan generasi muda untuk terlibat secara aktif melalui proses belajar, menyuarakan kepedulian, berkarya, dan bergerak bersama dalam menjaga Mahakam. Festival Aura Mahakam 2026 diharapkan menjadi momentum penguatan peran generasi muda dalam upaya perlindungan lingkungan dan keadilan ekologis di Kalimantan Timur.




