IIME Menjadi Pertolongan Pertama Pariwisata Indonesia

Monday, 07 December 20 Bonita Ningsih
IIME

The 2nd Indonesia International MICE Expo (IIME) 2020 telah diselenggarakan pada 1-3 Desember 2020. The 2nd IIME 2020 berhasil mempertemukan seller dan buyer pada sesi bisnis one on one melalui platform Jublia Business Matching.

IIME 2020 adalah hasil kerja sama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang didukung oleh asosiasi pariwisata di Indonesia, seperti GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia), ASITA (Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia), PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia), MASATA (Masyarakat Sadar Wisata), dan IHGMA (Indonesian Hotel General Manager Association).

Acara ini terselenggara atas inisiasi tiga pelaku usaha industri MICE, yakni AlcorMICE, RajaMICE, serta TripEvent. Selama tiga hari, acara ini berhasil mendapatkan 570 pertukaran informasi dan 146 pertemuan bisnis secara langsung melalui virtual.

 Rangkaian kegiatan IIME 2020 dibuka secara resmi oleh Rizki Handayani Mustafa, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Dalam pembukaannya, Rizki mengaku optimisme bahwa penyelenggaraan kegiatan MICE akan kembali bergerak, salah satunya melalui acara ini.

BACA JUGA:   Indonesia Comic Con, Berbeda Dengan Pameran Pop Lainnya

Pemulihan industri ini juga dibantu dengan komitmen dari para pemilik fasilitas MICE, termasuk hotel, yang selalu menyosialisasikan protokol kesehatan secara ketat di seluruh area. Kemenparekraf juga telah membantu sektor perhotelan dengan pemberian sertifikasi CHSE secara gratis agar mendapatkan kepercayaan lebih dari masyarakat.

“Dengan adanya sertifikasi tersebut, kami mengharapkan akan terjadi pertemuan secara langsung meskipun dalam jumlah yang terbatas. Ini kami lakukan semata-mata agar industri MICE masih tetap berjalan dengan membiasakan protokol baru di dalamnya,” ujar Rizki.

Kiki mengatakan, untuk membangkitkan kembali industri ini diperlukan berbagai kolaborasi antar-pihak berwenang di setiap daerah. Dalam hal ini, kerja sama dinas pariwisata daerah dan otoritas setempat sangat dibutuhkan untuk memberikan izin penyelenggaraan acara, baik secara offline maupun online dengan menerapkan protokol kesehatan ketat.

Panca R. Sarungu, Co Founder IIME sekaligus Pendiri RajaMICE, menjelaskan bahwa terdapat 57 seller yang bergabung dalam acara ini dan berasal dari perusahaan penyedia jasa MICE di Indonesia. Seluruh seller melakukan diskusi rencana bisnis di tahun 2021 dengan 60 buyer yang telah dihadirkan dari domestik dan internasional. Buyer yang hadir berasal dari Amerika Serikat, Australia, Spanyol, Arab Saudi, Singapura, Filipina, Jerman, India, Nigeria, Belanda, dan juga pelaku bisnis dari seluruh Indonesia. Seluruh buyer yang dihadirkan sudah lolos seleksi dan kriteria yang telah ditentukan pihak penyelenggara.

BACA JUGA:   Jakarta Fair 2018, Tolok Ukur Industri MICE

“Hasilnya, ada harapan dan testimoni yang diberikan dari seller kepada buyer selama perhelatan tiga hari ini. Selain itu, kami mencatat, meskipun dalam masa pandemi, telah terjadi peningkatan bisnis sebesar 15 persen dari event pertama sebelumnya,” ucap Panca.

Sementara itu, terkait sistem penyelenggaraannya, Business Matching Jublia yang digunakan IIME 2020 hampir mirip dengan yang digunakan oleh beberapa kegiatan virtual internasional seperti ITB Asia Singapura dan WTM Inggris. Sistem ini memungkinkan pertemuan bisnis dengan tatap muka yang memanfaatkan fitur-fitur canggih di dalamnya.

“Tantangan utamanya adalah membiasakan diskusi secara online dengan orang-orang yang baru kita temui saat itu. Beberapa hal teknis lainnya juga masih akan terus kami sempurnakan ke depannya,” Panca menambahkan.

BACA JUGA:   Konjen India & BIFA Gelar Festival Cahaya 2018 di Bali

Jim Tehusijarana, Co Founder IIME sekaligus Direktur AlcorMICE, mengatakan, keunggulan yang didapat dari kegiatan virtual ialah dapat dilakukan selama 24 jam dalam sehari. Hal ini dilakukan lantaran adanya perbedaan waktu di beberapa negara sehingga penjual dari Indonesia harus menyesuaikan hal tersebut. Selain itu, pihak penyelenggara juga memberikan waktu lebih untuk para seller dan buyer melanjutkan bisnisnya selama tujuh hari setelah IIME berakhir.

“Kami akan membuka kesempatan bagi seller dan buyer untuk berinteraksi menggunakan fasilitas business matching yang kami sediakan. Kesempatan ini kami berikan sampai tanggal 10 Desember mendatang,” ungkap Jim.