MICE Discovery 2020: Merekonstruksi Masa Depan MICE Indonesia

Monday, 07 December 20 Harry
MICE Discovery

Mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti kembali menyelenggarakan seminar MICE Discovery yang pada tahun ini merupakan pergelaran tahun ke-8. Acara yang diadakan oleh mahasiswa departemen Usaha Perjalanan Wisata STP Trisakti angkatan 2018 ini berbeda dari penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya karena pada tahun ini digelar secara daring.

Berlangsung pada tanggal 5 Desember 2020, MICE Discovery 2020 mengangkat tema “New Nor-MICE: Expect The Unexpected”. Seminar ini terdiri dari dua sesi. Pada sesi pertama diisi oleh Rachmat Ramadhan, S.ST., M.M., CBS., seorang akademisi dan praktisi MICE, yang membahas mengenai “Strategi Memperoleh Proyek Pelatihan/Seminar Online dari Instansi Pemerintah serta Teknis Pengelolaannya”.

Sementara pada sesi kedua ada Gad Permata, Vice President PT Adhouse Clarion Events serta Wakil Sekjen Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia. Gad membawakan topik yang cukup hangat di masa pandemi ini, yaitu “Strategi Mengelola Pameran Virtual”.

BACA JUGA:   Hotel Episode Gading Serpong Gelar Pameran Pernikahan Bertema Love Around the World

Rachmat mengatakan, berdasarkan data UNWTO, pandemi COVID-19 telah berdampak sangat besar terhadap industri pariwisata dunia, antara lain berkurangnya perjalanan wisatawan dunia sebesar 850 juta sampai 1,1 miliar turis, lalu perkiraan US$910 miliar sampai US$1,2 triliun potensi pendapatan dari sektor pariwisata dunia ikut hilang, serta 100 juta-120 juta lapangan pekerjaan terkait pariwisata terancam hilang.

Kondisi industri MICE dan event saat ini berdampak paling besar terhadap regional Asia Pasifik, dengan penyesuaian terhadap 48% pertemuan (virtual, hybrid, relocated, postponed, cancelled). Pandemi COVID-19 berdampak pada 90% pembatalan atau penundaan event sampai akhir 2020, dan sampai saat ini telah terjadi 96,4% kasus penundaan serta 84,8% kasus pembatalan event di 17 provinsi.

BACA JUGA:   Mengintip Peluang Indonesia sebagai Destinasi MICE Asia

Berdasarkan penelitian dari ICCA (International Congress and Convention Association), pandemi COVID-19 berdampak kuat terhadap penyesuaian dalam penyelenggaraan pertemuan internasional, baik pembatalan, penundaan, maupun perubahan lokasi. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa yang paling terpengaruh dari adanya COVID-19 adalah pertemuan berskala sedang (100-500 peserta) dan berskala besar (500-1.000 peserta).

Terkait strategi memperoleh proyek pelatihan/seminar online dari instansi pemerintah, Rachmat mengatakan bahwa kegiatan MICE online maupun offline termasuk dalam kategori “Jasa lainnya” dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah. Adapun untuk mekanisme penunjukan pekerjaan di kementerian/lembaga pemerintah ada dua.

Pertama, untuk kegiatan dengan anggaran lebih dari Rp200 juta harus melalui mekanisme tender. Semua informasi tersebut bisa ditemui di LPSE (Layanan Pengadaan Secara Elektronik) setiap lembaga pemerintah. Kedua, untuk kegiatan dengan anggaran kurang dari Rp200 juta dapat melalui mekanisme non-tender atau penunjukan langsung.

BACA JUGA:   Kemenparekraf Hadirkan Acara Musik dan Seni Untuk Dukung MotoGP 2022

Seminar MICE Discovery ke-8 ini dihadiri oleh 295 orang pada sesi 1 dan 296 orang pada sesi 2 yang berasal dari pelajar, guru Sekolah Menengah Atas/Kejuruan Pariwisata dan perhotelan, serta para profesional dari Event Organizer (EO), Professional Conference Organizer (PCO), Professional Exhibition Organizer (PEO), asosiasi, media, dan sponsor terkait MICE.