Industri Event Rugi Rp6,94 Triliun

Friday, 20 March 20 Herry Drajat

Salah satu industri yang terdampak dari penyebaran COVID-19 adalah industri event. Adanya imbauan dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk meniadakan acara yang menimbulkan keramaian dan penerapan social distancing adalah penyebab utama ditundanya bahkan dibatalkannya penyelenggaraan suatu event.

Mulkan Kamaludin, Ketua Umum IVENDO (Industri Event Indonesia), menyebutkan, saat ini paling tidak sekitar 50.000 pekerja kreatif di industri ini terancam kehilangan pekerjaannya. “Ratusan penggiat event yang notabenenya backbone dari event tourism terancam gulung tikar,” ujar Mulkan.

Mulkan menambahkan, penundaan dan pembatalan event dialami 1.218 organizer di seluruh Indonesia, dengan total kerugian antara Rp2,69 triliun hingga Rp6,94 triliun. Kerugian tersebut sebagian besar karena dana-dana deposit yang sudah telanjur dibayarkan serta akibat barang keperluan event yang sudah telanjur diproduksi.

“Tiga porsi terbesar adalah di vendor produksi sebesar 26,23 persen, kedua adalah venue (22,30 persen), dan diikuti oleh artis atau pengisi acara (16,72 persen),” ujar Mulkan.

Mengenai pembatalan event, Mulkan menambahkan bahwa event yang dibatalkan umumnya 39,25 persen berasal dari permintaan klien sendiri. Sisanya ada dari kesepakatan bersama (28,50 persen), mengikuti imbauan dari pihak otoritas (29,44 persen), dan keputusan organizer sendiri sebesar 2,8 persen.

Hal senada juga dialami oleh pekerja event di Bali. Grace Jeanie, Ketua DPD IVENDO Bali, menyampaikan bahwa industri event di Bali kurang lebih juga mengalami persoalan yang sama seperti daerah lainnya dan mencoba bertahan di tengah ketidakpastian ini.

“Tantangan nyata di depan mata bagi perusahaan EO di seluruh Indonesia kini adalah likuiditas keuangan. Bayangkan, sebentar lagi Lebaran, lalu adanya berbagai kewajiban di bank yang terus berjalan. Namun, kini tak ada pemasukan karena semua event ditunda bahkan dibatalkan,” ujar Grace.

Mengenai kerugian yang dialami oleh organizer menurut Grace di antaranya adalah adanya penalti atas adanya penundaan maupun pembatalan yang diterapkan mitra bisnis, seperti dari maskapai penerbangan, hotel, venue, manajemen artis, dan lain sebagainya. Selain itu, ada juga organizer yang melaporkan bahwa mereka tetap harus menanggung penalti pembatalan dengan kondisi umum, bahkan ada hotel yang menerapkan bahwa deposit tidak bisa dikembalikan meski keadaan force-majeur.