Jalan Panjang Menjadikan MICE sebagai Tulang Punggung Pariwisata

Monday, 15 April 19   75 Views   0 Comments   Herry Drajat
INAMICE 2019

Konferensi Nasional MICE (INAMICE) ke-3 diselenggarakan di Jakarta Convention Centre pada 10 April 2019. Perhelatan yang diselenggarakan oleh mahasiswa Program Studi MICE Politeknik Negeri Jakarta tersebut didukung penuh oleh Kementerian Pariwisata melalui Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan, Asdep Pengembangan Wisata Alam dan Buatan.

Mengangkat tema “Menjadikan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) sebagai tulang Punggung Pariwisata Indonesiaā€¯, penyelenggaraan INAMICE 2019 bertujuan mengidentifikasi tren MICE dunia serta memperoleh pemahaman dan identifikasi tentang potensi serta strategi Indonesia dalam memenangkan bidding event MICE internasional dari segmen pemerintahan, asosiasi, dan korporasi skala internasional.

INAMICE 2019 dihadiri kurang lebih 150 peserta dari berbagai unsur, di antaranya kementerian/lembaga pemerintahan daerah dari berbagai destinasi MICE, asosiasi industri MICE, pelaku bisnis MICE, akademisi, dan media masa.

Beberapa pembicara yang hadir di acara ini adalah Ketua Asosiasi Indonesia Hepato Pancreato Biliary (INAHPBA) Dr. dr. Toar J. M. Lalisang, SpB(K)BD, Chairman International Congress and Convention Association (ICCA) Chapter Asia Pasifik Noor Ahmad Hamid, Ketua Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (ASPERAPI) Hosea Andreas Runkat, serta Marketing Director PT Jakarta International Expo (JIExpo) Ralph Scheunemann.

Para peserta konferensi diajak untuk mendengarkan pengalaman memenangkan bidding dari Ikatan Bidan Indonesia (IBI) yang diwakili Dr. Emi Nurjasmi, M.Kes, Ketua Umum IBI, yang sukses membawa event 32nd International Confederation Mildwive (ICM) Triennial Congress 2020, serta dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sukses menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah Our Ocean Conference 2018.

Beberapa kesimpulan yang bisa ditarik dari konferensi ini di antaranya adalah Indonesia memiliki banyak pekerjaan rumah untuk menjadikan MICE sebagai tulang punggung pariwisata, terutama pada level mana serta organisasi apa yang akan mengurus MICE. Untuk itu, perlu diajukan argumentasi yang cukup kuat untuk memasukkan MICE pada level yang diinginkan. Untuk itu, kelemahan dari kurangnya data MICE yang menjadi prioritas harus dibenahi.

Yang kedua adalah untuk memenangkan bidding dan menjadikan kegiatan MICE internasional bisa dilaksanakan di Indonesia, kolaborasi menjadi hal yang sangat penting. Kolaborasi berbagai pihak menjadi kunci sukses kemenangan bidding. Indonesia sebenarnya siap menjadi destinasi MICE sesuai dengan kapasitas dan fokus masing-masing kota. Untuk itu, perlu positioning destinasi MICE, terutama pada penentuan skalanya.

Noor Ahmad Hamid menyampaikan, tren konferensi saat ini adalah festivalisation sehingga kongres tidak hanya scientific, tapi juga mengandung unsur festival, kemudian transformational experience, lalu bagaimana kongres itu bisa memberikan dampak pada komunitas setempat (mindful event), dan terakhir harus ada legacy, yaitu apa yang didapat oleh destinasi setelah kongres berakhir.