Komunitas Salihara Arts Center Hadirkan Pameran Interaktif Age of Consent

Tuesday, 22 November 22 Bonita Ningsih

ARCOLABS, sebuah inisiatif kurator berbasis di Jakarta yang berfokus pada seni media kontemporer dan media baru, menghadirkan sebuah pameran seni media baru. Pameran ini menampilkan empat seniman dari Indonesia dan Korea Selatan yaitu duo seniman asal Bandung Cut dan Rescue, Theo Nugraha (seniman/kurator dari Samarinda), dan Yim Hyun Jung (seniman visual dari Korea Selatan). 

Bertajuk ‘Age of Consent’, pameran interaktif ini akan dipamerkan di galeri daring Komunitas Salihara Arts Center (galeri.salihara.org) mulai 19 November 2022 hingga 28 Mei 2023. Pameran ini merupakan bagian dari Universal Iteration Salihara, sebuah inisiatif yang lahir pada tahun 2021 sebagai upaya untuk memanfaatkan ruang digital sebagai ruang pameran. 

Alih-alih menghadirkan pengalaman satu arah dalam memandang seni, ‘Age of Consent’ berfungsi sebagai platform yang memungkinkan seniman dan penonton untuk berinteraksi. Tak hanya itu, mereka juga memiliki kesempatan untuk berkreasi bersama dan mengembangkan karya seni selama pameran berlangsung. Sebagai titik awal, setiap seniman menanggapi salah satu dari empat prinsip yang memandu pameran yaitu waktu, ruang, materi, dan energi.

BACA JUGA:   MICE Fam Trip SMF & AMITE 2016

Pameran ini dikuratori oleh Christine Toelle dan Luthfi Zulkifli, keduanya peserta terpilih dari XPLORE: New Media Art Incubation, sebuah program yang dirancang oleh ARCOLABS untuk membina kurator seni media baru. Selama Juni 2022, sembilan peserta program inkubasi ini telah dibimbing oleh sejumlah pakar seni media baru dan para mentor yang juga berperan membimbing kurator terpilih dalam mempersiapkan pameran.

Untuk meningkatkan pemahaman penonton tentang pameran seni media baru, kurator pameran bersama tim ARCOLABS dan Komunitas Salihara Arts Center merancang berbagai program publik seperti Public Paper. Ini merupakan serangkaian platform di mana seniman dan penonton dapat berinteraksi untuk berkreasi bersama.

Platform ini memiliki live chat bagi seniman yang ingin mengadakan diskusi publik melalui WhatsApp atau aplikasi komunikasi chat lainnya. Dalam rangka penutupan pameran di tahun 2023, publikasi pasca pameran berjudul Archived Cabinets akan diterbitkan untuk menampilkan kondisi akhir karya seni setelah proses interaksi seniman-audiens selama periode pameran.

BACA JUGA:   Tapanuli Utara, Tuan Rumah Festival Danau Toba 2016

Jeong Ok Jeon, Direktur ARCOLABS, mengatakan XPLORE dapat menjadi wadah berdialog dan diskusi mengenai isu-isu terkini tentang kurasi seni media baru di Indonesia dan Korea. Oleh sebabnya, ia berharap agar pameran ini dapat memperluas cakrawala masyarakat dalam memahami seni media baru.

“Saya sangat senang tahun ini dapat bermitra dengan Komunitas Salihara Arts Center untuk mengembangkan program inkubasi kuratorial ini menjadi pameran daring interaktif. Kami berharap penonton dapat mengeksplorasi berbagai pengalaman melalui karya seni dan berkontribusi pada perkembangan karya selama periode pameran,” ucapnya.

Christine Toelle mengaku bersyukur karena telah diberikan kesempatan untuk mengurasi pameran media baru ini. Menurutnya, pameran ini memiliki sisi menarik yaitu perkembangan karya seni yang bergantung pada kreasi seniman bersama publik. Dengan demikian, ia percaya interaksi ini adalah jiwa dari seni media baru, sebuah cara baru untuk mengalami pameran seni.

“Kami telah belajar banyak selama program inkubasi XPLORE untuk mengurasi pameran ini. Prosesnya sangat kolaboratif, baik dengan empat seniman yang berpameran, maupun tim di ARCOLABS dan Komunitas Salihara Arts Center,” ujarnya.

BACA JUGA:   IFEX 2021 Beralih ke Virtual

Penyelenggaraan pameran ini mendapatkan sponsor dari Korea Foundation (KF) Jakarta yang sudah berusia 30 tahun pada tahun 2021 lalu. Keikutsertaan KF Jakarta dalam pameran ini sebagai bentuk usaha mereka untuk mendukung berbagai program dengan visi masa depan.

“Sejak Korea Foundation membuka kantornya di Jakarta pada tahun 2019, kami telah memfasilitasi pertukaran budaya yang berbeda antara Indonesia dan Korea. Kami menyambut ‘Age of Consent’ sebagai cara partisipatoris untuk menikmati seni tanpa terbatas lokasi geografis. Kami berharap dapat terus mendukung proyek pertukaran yang bermakna seperti ini, dan mengharapkan keterlibatan penonton Indonesia, Korea, dan internasional dalam pameran ini,” kata Choi Hyun Soo, Direktur Korea Foundation Jakarta.