Jakarta, Venuemagz.com – Di tengah tensi geopolitik akibat perang di Timur Tengah, industri MICE dunia ikut terguncang. Selain karena penerbangan pesawat yang terputus atau dialihkan, ditutupnya Selat Hormuz juga turut menaikkan harga bahan bakar minyak secara global. Akibatnya, harga-harga pun ikut melambung tinggi.
Hosea Andreas Runkat, Ketua Umum ASPERAPI, mengatakan, untuk pameran internasional, buyer dan peserta pameran dari Timur Tengah akan terkendala. Namun, secara domestik, industri pameran Indonesia masih aman dan kuat.
“Tapi kita optimis karena bisnis tidak di-stop. Waktu COVID itu bisnis ‘kan di-stop, kalau sekarang tidak. Orang-orang tetap perlu berbisnis dan berpameran. Dari China tetap butuh jualan. Selama Indonesia aman dan tidak dilewati rudal, mereka akan tetap datang ke Indonesia,” ujar Andre.
Sebagai negara produsen besar, China terus mencari market-market internasional untuk memasarkan produknya. Dengan populasi yang begitu besar, Indonesia menjadi salah satu pasar potensial bagi China.
“Semua negara sekarang sedang membidik China. Tapi yang jadi prioritas China cuma dua, yaitu Indonesia dan Vietnam. Mereka melihat populasi kita besar. Populasi itu berarti market. Kalau Vietnam, mereka tidak ada populasi, tapi manufaktur atau pabriknya banyak di sana. Dulu, manufakturnya di kita, tapi sekarang pindah ke Vietnam. Tapi marketnya tetap di kita,” ujar Andre.
Andre menambahkan, pada tahun ini pameran dari China akan banyak diselenggarakan di Indonesia. Hal tersebut tentunya menjadi berkah bagi event organizer (EO) lokal. Pasalnya, pemain luar yang ingin berpameran di Indonesia mau tidak mau harus menggandeng EO lokal untuk membantu mengurus perizinan dan surat-surat lainnya karena hal tersebut tidak mungkin diatur dari China langsung.
“Tapi China itu pintar. Mereka invest, buka kantor di sini, jadi secara legal mereka sudah ada di sini,” ujar Andre.





