Naik Kelas, Grebeg Sudiro Diharap Masuk Ke Platform Digital

Sunday, 11 February 24 Harry

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menghadiri penyelenggaraan Grebeg Sudiro 2024 di Kelurahan Sudiroprajan, Solo, Jawa Tengah, yang digelar dari 27 Januari sampai 24 Februari 2024. Grebeg Sudiro merupakan event perdana dari bagian  Karisma Event Nusantara yang akan digelar sepanjang 2024.

“Grebeg Sudiro menjadi event KEN pertama tahun 2024 yang digelar. Event ini juga berdekatan dengan Imlek, keseruannya pas dengan budaya Jawa. Menjadi simbol bahwa kita semua saudara dalam kebhinekaan Indonesia,” ujar Sandi.

“Dampaknya luar biasa, ini event yang dikemas dengan baik, secara waktu juga tepat berbarengan dengan Imlek dan kita saksikan penutupannya pada 22 Februari 2024. Kami akan menghitung dampaknya secara menyeluruh,” ujarnya.

BACA JUGA:   Indonesia Menjadi Tuan Rumah World Water Forum, 172 Negara akan Hadir

Sebagai bentuk akulturasi budaya antara warga Tionghoa dan Jawa, event yang memasuki tahun ke-15 ini merupakan simbol dan wujud aktualisasi, akulturasi, pembauran, dan harmoni dalam kebhinekaan di kawasan heritage Pasar Gede dan Kampung Pecinan yang menjadi bagian Kelurahan Sudiroprajan. Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, dikenal sebagai Kampung Pecinan karena dihuni banyak etnis Tionghoa. Wilayah ini mencakup Kampung Kepanjen, Balong, Mijen, Ngampil, Samaan, Ketandan, Limolasan, dan Balong Lengkong.

‘Grebeg’ dalam tradisi Jawa merujuk pada perayaan rutin dan ucapan syukur untuk memperingati peristiwa penting. Sementara ‘Sudiro’ diambil dari Kampung Sudiroprajan di sekitar Pasar Gede. Tradisi ini awalnya untuk memperingati ulang tahun Pasar Gede Hardjonagoro yang digagas oleh warga etnis Tionghoa dan Jawa di Kampung Sudiroprajan.

BACA JUGA:   Indonesia Human Capital Summit, Pameran Untuk Maksimalkan SDM BUMN

Grebeg Sudiro melibatkan dua kegiatan utama, yakni sedekah bumi dan kirab budaya. Sedekah bumi mengekspresikan rasa syukur pedagang Pasar Gede dan masyarakat sekitar. Sementara kirab budaya melibatkan kebersamaan dua etnis, Tionghoa dan Jawa, dengan menampilkan tarian khas Jawa, serta pertunjukan Liong dan Barongsai.

Sandi berharap Grebeg Sudiro dapat dikembangkan melalui platform digital. “Saya ingin strategi storynomicnya dikembangkan dan didokumentasikan dalam bentuk digital sehingga event ini bisa menjadi contoh event-event lain di Indonesia. Kalau bisa konten-kontennya terus ditingkatkan,” katanya.

BACA JUGA:   Menuju Indonesian GP 2023, Sirkuit Mandalika Ditutup Sementara Waktu

“Saya mencari event-event seperti ini, yang bisa naik kelas dari event kelurahan menjadi event provinsi. Saya berharap ini bisa menjadi event internasional. Ini juga sebuah gerakan masyarakat yang menginspirasi kita untuk bangkit, ekonomi kita digerakkan dari sektor konsumsi dan di event ini kita melakukannya,” ujar Sandi.