Pameran di New Normal Butuh Biaya Lebih Tinggi

Thursday, 02 July 20 Bonita Ningsih
Indonesia International Furniture Expo IFEX
Pameran IFEX menjadi salah satu acara milik Dyandra Promosindo yang dibatalkan penyelengaraannya.

Pemerintah telah melonggarkan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) agar perekonomian kembali berjalan. Dalam pelaksanaannya, pelaku bisnis diminta untuk mengutamakan protokol kesehatan sehingga menjamin keamanan dan keselamatan lingkungan sekitarnya.

Bagi industri pameran, pemulihan bisnis memang belum terjadi secara signifikan. Pasalnya, hingga saat ini pemerintah masih belum mengizinkan pameran digelar.

Hosea Andreas Runkat, Ketua Umum DPP Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (ASPERAPI), mengatakan, jika nantinya pameran dibuka kembali, akan banyak perubahan yang terjadi di dalamnya. Selain mengubah kebiasaan lebih bersih, biaya produksi yang dikeluarkan juga akan mengalami perubahan yang signifikan.

“Penerapan new normal ini pasti membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Dengan adanya COVID-19 ini, akan ada penambahan alat pelindung diri, seperti masker, hand sanitizer, pelindung kepala, dan lainnya,” ungkap Andre.

Meskipun terjadi penambahan biaya produksi, menurut Andre, penghasilan yang didapat tidak akan lebih banyak dari pengeluaran. Pasalnya, pameran di era new normal harus mengurangi jumlah kapasitas orang di dalamnya untuk menaati aturan physical distancing atau jaga jarak.

“Sudah dapat dipastikan cost yang keluar bisa lebih banyak dua kali lipat hingga tiga kali lipat. Tetapi, new normal ini akan membuat omzet kita juga turun. Ini yang harus hati-hati, jangan sampai setelah dibuka, satu bulan atau dua bulan ke depannya bisnis kita malah rontok,” jelas Andre.

Oleh karenanya, Andre meminta agar pelaku industri pameran dapat menentukan strategi terbaiknya untuk menjalankan bisnisnya di era new normal. Dengan keterbatasan biaya tersebut, diharapkan pelaku pameran tetap dapat menghadirkan produk dengan kualitas yang terbaik.

Selain itu, Andre juga meminta stimulus dari pemerintah mengatasi tingginya biaya produksi bagi pelaku industri pameran. Stimulus yang diharapkan berupa keringanan pajak, menjadi sponsorship, atau pemberian modal untuk pelaksanaan pameran.

“Paling tidak kita butuh modal awal saat menggelar pameran lagi. Banyak teman-teman industri yang memiliki semangat tinggi, tetapi tidak memiliki modal besar, itu yang harus diutamakan,” Andre menambahkan.