“Tidak ada yang tahu corona ini akan berakhir kapan, tapi kita harus punya persiapan di dalamnya. Ini berlaku untuk orang yang masih mau bisnisnya jalan seusai corona ya, kalau yang memang mau tutup lain lagi ceritanya,” jelasnya.
Meskipun tidak mudah, Hermawan meminta seluruh pelaku pariwisata untuk tetap yakin dan tidak panik dengan apa yang dialaminya saat ini. Buat persiapan bisnis yang matang untuk menghadapi COVID-19 berakhir, sebelum nantinya mengaktualisasikan dengan bentuk nyata.
Ia menyarankan agar pelaku pariwisata segera melakukan preparing di kuartal kedua ini. Dengan melakukan ini, dia meyakini pelaku usaha pariwisata, seperti hotel, travel, dan lainnya, dapat menyongsong bisnis yang lebih baik di masa mendatang.
“Saat ini memang masih masa surviving bagi pelaku pariwisata, tetapi saya menyarankan agar hal itu sejalan dengan preparing. Jadi, keduanya dijalankan secara bersamaan. Memikirkan persiapan apa saja yang akan dilakukan jika nanti bisnisnya buka lagi. Jadi, jangan panik-panik saja, kalau begitu terus ya siap-siap saja tutup,” dia menjelaskan.
Menurutnya, cara seperti ini sudah diterapkan oleh beberapa pelaku pariwisata di Indonesia. Hermawan mencontohkan, beberapa destinasi pariwisata tetap melakukan promosi dengan pesan berbeda dari biasanya. Di situasi pandemi ini, pesan yang diutarakan ialah meminta masyarakat untuk di rumah dulu demi menghindari penyebaran COVID-19.
“Tapi, setelah itu ada pesan lagi kalau mereka menunggu turis untuk datang kembali. Artinya, pesan yang disampaikan relevan dan menunjukkan kalau destinasi tersebut sudah siap pasca-COVID-19,” ujar Hermawan.





