Jakarta, Venuemagz.com – Mengisi kursi penonton untuk konser, festival kuliner, atau event publik mungkin bukan perkara sulit. Namun, tantangannya berbeda ketika target audien adalah kalangan profesional, mulai dari pekerja kantoran, eksekutif muda, pengusaha, hingga komunitas bisnis.
Segmen ini dikenal lebih selektif. Jadwal kerja padat, waktu terbatas, dan banyaknya pilihan kegiatan membuat keputusan menghadiri sebuah acara tidak bisa didorong sekadar promosi masif atau gimmick semata.
Di tengah kondisi tersebut, Populix merilis studi bertajuk Winning the Professional Audience: Event Preferences and Attendance Insights yang melibatkan hampir 900 responden profesional di Indonesia.
Riset ini memotret apa yang sebenarnya dicari audien profesional dari sebuah event luring, mulai dari alasan datang, waktu favorit, jenis venue, hingga kesediaan membayar tiket.
Temuan ini menjadi penting bagi pelaku industri EO, MICE, brand activation, operator venue, hingga corporate event planner yang tengah membidik pasar profesional.
Networking Lebih Penting dari Nama Besar Pembicara
Banyak penyelenggara masih percaya bahwa menghadirkan figur terkenal adalah kunci utama menarik peserta. Namun, data Populix menunjukkan hal berbeda.
Sebanyak 59% responden menempatkan sesi networking sebagai daya tarik utama sebuah acara. Sementara tema yang relevan dengan pekerjaan atau minat dipilih 52% responden. Nama besar pembicara justru hanya berada di angka 32%.
Artinya, audien profesional datang bukan sekadar untuk mendengar, tetapi juga bertemu, membangun relasi, dan membuka peluang baru.
“Meskipun acara daring cukup populer, temuan Populix menunjukkan bahwa acara luring masih sangat relevan bagi para profesional. Bahkan dalam setahun, rata-rata para profesional menghadiri 1-3 acara luring. Selain sebagai hiburan, motivasi terbesar mereka menghadiri acara luring adalah untuk mendapatkan pengalaman baru sambil memperluas relasi profesional,” ujar Indah Tanip, Senior Research Director Populix.
Bagi industri MICE, insight ini menegaskan pentingnya merancang event yang interaktif: business matching, networking lounge, speed meeting, hingga community table bisa jauh lebih efektif daripada sekadar format seminar satu arah.
Venue Outdoor Mulai Menggeser Ballroom
Menariknya, preferensi lokasi acara juga berubah. Sebanyak 62% profesional mengaku lebih tertarik menghadiri event di ruang terbuka atau area outdoor. Pilihan ini mengungguli mal atau convention hall (49%) dan hotel/ballroom (48%).
Tren tersebut menunjukkan bahwa venue dengan suasana lebih santai, segar, dan tidak terlalu formal kini semakin diminati. Untuk pelaku venue dan EO, taman kota, rooftop, beachfront venue, courtyard hotel, hingga creative compound bisa menjadi opsi strategis ke depan.
Pagi Hari Jadi Golden Time
Soal waktu pelaksanaan, acara pagi hari antara 08.00–11.00 WIB menjadi slot paling disukai dengan angka 35%. Sementara jam makan siang hanya dipilih 16% responden. Ini mengindikasikan bahwa profesional lebih nyaman menghadiri acara sebelum agenda kerja menumpuk, bukan saat waktu istirahat.
Bagi penyelenggara B2B, breakfast session, morning forum, atau executive networking breakfast bisa menjadi format yang lebih relevan dibanding lunch gathering.
Hari Kerja Lebih Menarik
Salah satu temuan paling menarik adalah preferensi hari pelaksanaan. Sebanyak 70% responden lebih memilih datang ke acara di hari kerja dan jam kerja.
Sebaliknya, hanya 15% yang bersedia hadir setelah jam kerja, dan 14% yang memilih akhir pekan.
Pesannya jelas, profesional cenderung menjaga waktu pribadi mereka. Jika acara punya nilai bisnis atau pengembangan karier, mereka justru lebih nyaman hadir saat jam kerja.
Bagi brand dan korporasi, ini menjadi alasan kuat mengapa weekday event masih sangat relevan.
Format Menengah Lebih Efektif
Di tengah tren event berskala jumbo, profesional justru lebih nyaman dalam format yang lebih terukur. Sebanyak 30% responden memilih acara dengan kapasitas 50–100 orang, disusul 27% untuk acara berisi 20–50 orang.
Jumlah peserta yang tidak terlalu besar dianggap lebih nyaman untuk berdiskusi, berinteraksi, dan membangun koneksi yang bermakna.
Bagi EO, ini membuka peluang untuk mengembangkan konsep micro conference, curated forum, private showcase, atau industry roundtable yang lebih eksklusif dan bernilai tinggi.
Goodie Bag Masih Penting, Tapi Harus Fungsional
Suvenir belum kehilangan daya tarik, asalkan tepat guna. Goodie bag favorit profesional diisi produk sponsor seperti camilan atau skincare (58%), kaos atau jaket eksklusif (54%), tumbler (53%), voucher atau e-money (52%), hingga gadget kecil seperti power bank atau earphone (51%).
Ini berarti sponsor activation sebaiknya mengarah ke produk yang bisa dipakai sehari-hari, bukan merchandise seremonial yang cepat dilupakan.
Pasar Event Berbayar Masih Terbuka
Untuk acara berbayar, mayoritas profesional bersedia membayar tiket antara Rp50.000 hingga Rp250.000, dengan rata-rata pengeluaran mencapai Rp222.441.
Bahkan, sembilan dari sepuluh profesional yang pernah datang ke event berbayar mengaku bersedia kembali membeli tiket untuk acara lain jika manfaat yang ditawarkan sepadan.
“Hal ini menunjukkan peluang keberlanjutan bisnis yang cukup besar bagi acara berbayar. Dengan catatan bahwa acara tersebut memiliki elemen-elemen kunci seperti hiburan, relasi, dan sesuai dengan minat dan kebutuhan para profesional,” lanjut Indah Tanip.
Peluang Baru bagi Industri EO dan MICE
Riset ini memberi pesan tegas bahwa audien profesional bukan sulit dijangkau, melainkan lebih rasional dalam memilih acara.
Mereka tidak mencari keramaian semata, tetapi nilai nyata, mulai dari relasi baru, insight relevan, suasana nyaman, waktu efisien, hingga pengalaman yang layak dibayar.
Bagi industri event Indonesia, khususnya sektor MICE dan corporate gathering, ini adalah momentum untuk beralih dari konsep besar-besaran menuju event yang lebih tepat sasaran, personal, dan berbasis kebutuhan audien.
Karena pada akhirnya, kursi penuh bukan soal jumlah promosi, melainkan seberapa relevan acara tersebut bagi mereka yang diundang.





