Vietnam, Venuemagz.com – Ho Chi Minh City tidak lagi hanya membidik peningkatan jumlah wisatawan. Kota terbesar di Vietnam itu kini menempatkan sektor Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) sebagai instrumen strategis untuk mendorong kualitas pariwisata, menarik investasi, sekaligus memperkuat posisi negara Vietnam di peta bisnis global.
Perubahan orientasi tersebut mencerminkan transformasi besar yang tengah berlangsung di industri pariwisata dunia. Di tengah tren wisata yang semakin menuntut pengalaman berkualitas, layanan berbasis teknologi, dan keberlanjutan, Vietnam melihat MICE bukan sekadar kegiatan konferensi atau pameran, melainkan sebagai penggerak ekonomi bernilai tinggi.
“Nilai suatu destinasi tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga kualitas wisatawan, tingkat pengeluaran, lama tinggal, dampak ekonomi yang ditimbulkan, serta nilai pengetahuan dan perdagangan yang dihasilkan dari setiap perjalanan,” ujar Nguyen Loc Ha, Permanent Vice Chairman of The Ho Chi Minh City People’s Committee, saat membuka acara International Travel Fair Ho Chi Minh City (ITE HCMC) 2026 pada 27 Agustus 2026 di Saigon Convention Center, Vietnam.
Menurut Ha, MICE saat ini berada di persimpangan antara industri pariwisata dengan perdagangan, investasi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Karena itu, sektor ini mampu menghadirkan wisatawan berkualitas tinggi sekaligus menghasilkan nilai tambah yang jauh lebih besar dibanding wisata konvensional.
Bagi Ho Chi Minh City, pengembangan MICE tidak lagi sekadar mengejar lebih banyak delegasi atau acara internasional. Yang jauh lebih penting adalah meningkatkan daya saing kota dan memperkuat reputasinya dalam jaringan destinasi MICE regional maupun global.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penerbitan Resolution No. 62/2025/NQ-HDND, yaitu sebuah kebijakan yang memberikan dukungan bagi perusahaan dan kelompok wisatawan MICE untuk datang ke Ho Chi Minh City.
MICE dan Pergeseran Arah Pariwisata Global
Pandangan serupa disampaikan Lam Thi Phuong Thanh, Menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Vietnam. Menurutnya, industri pariwisata global sedang memasuki fase baru yang ditandai oleh perubahan mendasar dalam perilaku wisatawan.
Wisatawan kini semakin mencari pengalaman yang personal, berkualitas, berbasis teknologi, mendukung kesehatan, menghargai budaya lokal, dan berorientasi pada keberlanjutan. Dalam kondisi tersebut, destinasi wisata tidak lagi bersaing hanya berdasarkan keindahan alam atau harga yang murah.
“Destinasi tidak lagi bersaing semata-mata berdasarkan sumber daya alam atau harga, melainkan melalui kualitas layanan, kapasitas inovasi, konektivitas, dan kemampuan menciptakan nilai yang berbeda,” kata Thanh.

MICE, lanjutnya, menjadi salah satu produk strategis yang mampu memimpin transformasi tersebut.
Data dari berbagai lembaga riset internasional menunjukkan pasar perjalanan bisnis dan MICE global diperkirakan menembus US$1,8 triliun pada 2026 dan meningkat menjadi sekitar US$2,4 triliun pada 2031.
Keunggulan sektor ini tidak hanya berasal dari jumlah peserta kegiatan, melainkan dari tingkat belanja yang sangat tinggi. Wisatawan MICE diketahui mengeluarkan uang antara tiga hingga enam kali lebih besar dibanding wisatawan biasa. Mereka juga cenderung tinggal lebih lama dan menggerakkan rantai ekonomi yang luas, mulai dari penerbangan, perhotelan, transportasi, kuliner, teknologi, hingga komunikasi.
Di Vietnam sendiri, nilai pasar MICE kini mendekati US$6 miliar, memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan pariwisata nasional yang mencapai ratusan triliun dong setiap tahun.
Bukan Sekadar Event, tetapi Ekosistem
Meski prospeknya besar, para pemangku kepentingan sepakat bahwa pengembangan MICE tidak bisa dilakukan secara parsial.
Nguyen Loc Ha menegaskan bahwa daya saing sebuah destinasi MICE mencerminkan kapasitas organisasi dan manajemen sebuah kota secara keseluruhan. Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi syarat mutlak.
“Kita harus beralih dari pola pikir ‘menarik satu per satu acara’ menjadi ‘membangun merek destinasi MICE’, serta dari sekadar bersaing antar-destinasi menuju kolaborasi yang memperluas pasar dan meningkatkan daya saing kawasan secara bersama-sama,” ujarnya.

Pemerintah Vietnam pun menempatkan pembangunan ekosistem MICE sebagai prioritas. Dalam ekosistem tersebut, pemerintah, maskapai penerbangan, hotel, pusat konvensi, perusahaan perjalanan, penyelenggara konferensi profesional (PCO), perusahaan manajemen destinasi (DMC), penyedia teknologi, hingga sektor budaya dan kuliner harus terhubung dalam satu rantai nilai yang terintegrasi.
Menuju MICE Hijau dan Digital
Transformasi hijau dan digital menjadi dua pilar utama yang akan menentukan masa depan industri MICE Vietnam.
Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Vietnam berencana mengembangkan Standar Green MICE Nasional yang mengacu pada standar internasional dari Global Sustainable Tourism Council (GSTC). Hotel, pusat konvensi, dan penyelenggara acara akan didorong menerapkan praktik ESG, mengukur emisi karbon, serta menjalankan operasional yang lebih ramah lingkungan.
Selain itu, teknologi seperti artificial intelligence (AI), big data, virtual reality, dan platform digital akan digunakan untuk meningkatkan efisiensi penyelenggaraan acara sekaligus memperkuat promosi destinasi.
“Teknologi baru, termasuk AI, big data, virtual reality, dan platform digital tidak hanya akan mengubah cara acara diselenggarakan, tetapi juga membentuk kembali cara kita berinteraksi dengan pelanggan, mengelola destinasi, dan mengukur nilai yang dihasilkan dari aktivitas MICE,” kata Thanh.
Dukungan Penuh Pemerintah
Komitmen terhadap pengembangan MICE juga ditegaskan oleh Deputy Prime Minister Vietnam, Pham Thi Thanh Tra. Menurutnya, MICE saat ini telah menjadi salah satu mesin pertumbuhan utama pariwisata global karena mampu mendorong investasi, perdagangan, inovasi, serta pertukaran budaya antarnegara.
“Vietnam tidak hanya ingin menjadi tuan rumah bagi acara-acara besar. Vietnam ingin menjadi mitra yang tepercaya dan anggota yang bertanggung jawab. Kami ingin turut membentuk masa depan industri MICE global yang lebih hijau, lebih cerdas, lebih kreatif, dan lebih berkelanjutan,” tegasnya.
Pemerintah Vietnam telah menetapkan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat sektor ini, mulai dari penyederhanaan prosedur visa dan kepabeanan, pembangunan infrastruktur transportasi dan pusat konvensi berstandar internasional, percepatan digitalisasi, penerapan standar Green MICE, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Kawasan seperti Ho Chi Minh City, Hanoi, Da Nang, Quang Ninh, Khanh Hoa, dan Phu Quoc diproyeksikan menjadi pusat-pusat MICE nasional yang terhubung dengan ekosistem kota pintar dan destinasi wisata utama.
Menjual Pengalaman, Bukan Sekadar Acara
Pada akhirnya, strategi MICE Vietnam tidak hanya berorientasi pada penyelenggaraan konferensi atau pameran internasional. Lebih dari itu, pemerintah ingin menjadikan setiap kegiatan sebagai ajang memperkenalkan identitas dan keunggulan Vietnam kepada dunia.
“Kami tidak hanya ingin wisatawan MICE datang ke Vietnam untuk menghadiri sebuah acara. Kami ingin mereka tinggal lebih lama karena pengalaman yang mereka temukan, dan kembali lagi karena kecintaan mereka terhadap destinasi ini,” ujar Lam Thi Phuong Thanh.
Dengan dukungan kebijakan, pembangunan infrastruktur, transformasi digital, dan komitmen terhadap keberlanjutan, Vietnam kini tengah memosisikan diri bukan sekadar sebagai lokasi penyelenggaraan acara internasional, melainkan sebagai salah satu pusat MICE paling kompetitif di Asia dalam dekade mendatang.




