Menelusuri Jejak Soekarno di The Phoenix Hotel Yogyakarta

Wednesday, 19 August 20 Bonita Ningsih
The Phoenix Hotel Yogyakarta

Dalam rangka merayakan HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia, jaringan hotel Accor mempersembahkan sebuah penawaran menarik dari salah satu hotelnya, yaitu The Phoenix Hotel Yogyakarta – MGallery. Dalam hal ini, The Phoenix Hotel Yogyakarta – MGallery meluncurkan “Soekarno Signature” yang merupakan paket menginap eksklusif bagi para tamunya.

Soekarno Signature hadir sebagai upaya melestarikan nilai sejarah bangsa serta cinta wisata Indonesia. Paket ini dikemas secara unik dengan menawarkan berbagai pengalaman menginap bernuansa sejarah di The Merdeka Suite, sebuah kamar yang dulunya sempat ditempati oleh proklamator dan presiden pertama Indonesia, yakni Ir. Soekarno.

Selain menginap, paket tersebut juga menawarkan tur ke ruangan yang dulunya merupakan ruang kerja Soekarno. Para tamu juga akan mendapatkan pengalaman bersantap eksklusif dengan hidangan yang terinspirasi dari makanan kesukaan sang Proklamator.

Adi Satria, Vice President Sales, Marketing, Distribution & Loyalty Accor Malaysia-Indonesia-Singapura, mengatakan, pihaknya yakin bahwa penawaran Soekarno Signature akan laku di pasaran. Apalagi, ditambah dengan dukungan dari pemerintah pusat dan daerah, menambah keyakinan Accor dalam mempromosikan paket menginap ini.

“Penjualan paket ini karena didasari dengan nilai history yang tinggi. Berbagai fakta telah diuraikan secara jelas, bukan hanya hoax maupun dongeng belaka karena kami sebelumnya sudah melakukan research terkait kebenaran sejarah tersebut,” jelas Adi.

Berdasarkan data yang diterima, The Phoenix Hotel Yogyakarta - MGallery merupakan sebuah tempat kerja Soekarno ketika ibu kota Indonesia pindah ke Yogyakarta setelah kemerdekaan. Berangkat dari berita tersebut, pihak Accor kemudian melakukan tinjauan literasi dan wawancara kepada mantan pemilik gedung Bernie Liem serta pensiunan staf bernama Karmin saat hotel itu bernama Hotel Merdeka dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Yogyakarta.

Dari hasil tersebut ditemukan fakta bahwa bangunan hotel disewakan pada pemerintah dan digunakan sebagai “Hotel National and Tourism Office” (NV HONET) dari tahun 1951 hingga 1988. Tempat tersebut merupakan lembaga yang mengelola hotel-hotel yang sebelumnya dimiliki oleh Belanda pada masa kolonial. Oleh karena itu, jejak Soekarno membekas di gedung berusia 100 tahun lebih ini yang memiliki arsitektur campuran klasik khas Eropa dan Jawa.

“Dengan adanya Soekarno Signature ini dapat menumbuhkan rasa bangga sebagai bangsa Indonesia dan saya yakin paket ini dapat meningkatkan pariwisata Indonesia, khususnya di Yogyakarta,” ujar Adi.

Halaman : 12