PHRI: Pelaku Hotel Harus Melek Digital

Thursday, 18 April 19   69 Views   0 Comments   Bonita Ningsih
PHRI

Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) DKI Jakarta mengadakan seminar dengan tema “Strategic Hospitality Marketing”. Tema ini dipilih untuk mengantisipasi minimnya jumlah tamu hotel saat Pemilihan Presiden (Pilpres) yang digelar pada 17 April 2019.

Lisa P. Sanjoyo, Ketua Penyelenggara, menjelaskan, setiap tahunnya PHRI DKI Jakarta mampu mengadakan seminar sebanyak dua kali dalam setahun. Dalam seminar kali ini, tema tersebut dipilih lantaran agenda politik seperti Pilpres menjadi tantangan terbesar bagi para pemilik hotel. Permintaan tamu untuk menginap cenderung menurun dan berkurangnya permintaan para korporat dalam penyewaan ruang meeting.

“Agenda politik ini menyebabkan okupansi menurun. Lalu, kita pikir apa yang bisa kita lakukan secara bersama-sama? Ya, salah satunya ini membuat seminar yang menyajikan strategi-strategi dalam marketing,” kata Lisa saat seminar Strategic Hospitality Marketing yang digelar di Hotel Oria, Jakarta Pusat.

Untuk mencapai hasil yang maksimal, pembicara yang dihadirkan merupakan orang-orang berkompeten di bidangnya. Ada lima pembicara yang dihadirkan, yakni Jubi Prasetyo sebagai VP Loyalty & Ancillary Garuda Indonesia, Tina Sihombing sebagai Corporate Sales Marketing Director Parador Hotels & Resorts, Verdyka Kurniawan sebagai Senior Business Development Consultant Google Customer Solutions, Handono S. Putro sebagai Managing Director Dafam Group, dan Pramita Sari sebagai Ketua Himpunan Humas Hotel (H3).

“Kalau bicara teori, dari buku banyak. Ketika kita bicara bagaimana mempraktikannya, kita butuh narsum yang memang sudah terbukti dan teruji pengalamannya, yang bisa memberi sharing, strategi apa yang dibutuhkan untuk anggota-anggota kami agar bisa meningkatkan okupansi di hotelnya masing-masing,” ujar Lisa.

Handono mengatakan bahwa dalam sebuah marketing tidak ada rumus jitu di dalamnya. Menurutnya, marketing itu sebuah seni, yang menempatkan para pelaku hotel di tengah produk dan market.

Selain itu, marketing hotel juga harus mampu melihat tren apa yang tengah terjadi di masyarakat. Menurutnya, saat ini tren digital telah berkembang di industri pariwisata dan banyak melibatkan kalangan milenial di dalamnya.

“Kalau dulu kita yang aktif mencari customer, nah dengan revolusi industri jadinya semua orang bisa melihat dan memberikan alternatif perjalanannya melalui digital. Kita sudah tidak bisa lagi menggunakan strategi secara manual, sudah harus digital karena sekarang semuanya berubah ke milenial,” ucapnya.

Di kesempatan yang sama, Verdyka sebagai perwakilan Google mengatakan bahwa saat ini orang yang melakukan pencarian hotel secara online sudah mencapai 73 persen. Mereka mampu melakukan booking hotel secara online karena dinilai lebih cepat dan mudah.

Booking online juga bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, itu yang menjadi pertimbangan mereka. Mereka juga dapat dengan mudah memperoleh informasi terkait harga, lokasi, dan promosi dengan melakukan riset di online,” ungkap Verdyka.

Dengan adanya informasi tersebut diharapkan dapat membantu para pelaku hotel dalam meningkatkan penjualannya. Para pelaku hotel harus melek teknologi agar dapat mengembangkan bisnisnya melalui digital, seperti pembuatan website hotel hingga membuat media sosial terkait hotelnya.

“Karena untuk hari ini yang datang ada lebih dari 100 orang yang kebanyakan diisi oleh orang-orang hotel di sekitar Jakarta, Bogor, dan Tangerang. Jadi, diharapkan dengan seminar ini mampu memberikan informasi yang baik untuk meningkatkan okupansi mereka,” ungkap Lisa.