Proyek Hotel Terbengkalai Akibat Pandemi

Wednesday, 08 July 20 Bonita Ningsih

Hotel merupakan salah satu sektor yang paling berdampak cukup besar dengan adanya COVID-19 di Indonesia. Proses pengembangan dan pembangunan hotel juga mengalami gangguan, khususnya di semester pertama tahun 2020.

Berdasarkan hasil riset dari Colliers International Indonesia di tiga wilayah, yakni Jakarta, Surabaya, dan Bali, diketahui bahwa hanya ada satu hotel yang dibuka pada semester pertama 2020.

“Dari ketiga wilayah tersebut, hanya ada satu hotel saja yang berhasil dibuka. Itu juga dibuka pada Februari 2020 sebelum pandemi masuk ke Indonesia dan memang itu semua sudah dijadwalkan untuk buka,” kata Ferry Salanto, Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia.

Proyek pembangunan hotel yang sudah masuk ke tahap konstruksi pun terpaksa harus dihentikan karena adanya virus ini. Alasannya, para investor lebih memilih untuk menahan uangnya untuk kebutuhan yang lebih penting di tengah pandemi ini. Bahkan, menurut Ferry, proyek-proyek yang sudah siap beroperasi di tahun 2020 harus ditunda sampai waktu yang tidak dapat ditentukan.

“Proyek yang sudah siap ini masih menunggu kondisi pasar saat ini. Sebenarnya, bisa saja mereka launching hotelnya, tetapi momentumnya ini tidak tepat,” ungkap Ferry lagi.

Menurutnya, para pengembang harus menunggu sampai kondisi pasar membaik dan minat masyarakat terhadap sektor perhotelan sudah tinggi. Memperhitungkan segala sesuatunya secara tepat dan matang sangat diperlukan di tengah kondisi seperti ini.

“Percuma saja kalau mau buka saat ini karena hotel-hotel yang sudah ada saja masih sepi pengunjung saat ini. Tingkat okupansinya rendah sehingga mereka harus menurunkan rate dari hotelnya,” jelasnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Colliers International Indonesia, okupansi hotel paling rendah berada di bulan April 2020. Dengan jumlah okupansi terendah ditempati oleh hotel-hotel yang ada di Bali dengan rata-rata tujuh persen saja di bulan April 2020.

“Awal tahun itu masih menempati 60 hingga 70 persen okupansi, lalu di Maret tinggal 30 hingga 40 persen, dan paling parah di bulan April kemarin,” dia menambahkan.

Melihat rendahnya tingkat okupansi hotel di tiga wilayah tersebut, Ferry berharap agar market korporat dapat membantu bisnis hotel saat ini. Apalagi, saat ini sudah memasuki masa transisi sehingga kegiatan korporat sudah dapat dilakukan di luar kantor.

“Untuk saat ini, korporat market harus segera bergerak dan mulai menjalankan aktivitas bisnisnya di hotel. Faktor inilah yang dapat mendorong bisnis hotel,” ujarnya.