Anak Terpapar Gawai Dalam Waktu Panjang, Ini Efek Buruknya

Wednesday, 27 October 21 Venue

Penggunaan internet dan gawai (gadget) saat ini semakin mengkhawatirkan, apalagi pada masa Pandemi Covid-19. Selain dipakai saat ada jadwal belajar online, umumnya anak dan remaja menggunakan gawai untuk aktivitas lainnya seperti bermain games, berselancar di sosial media, dan lain sebagainya.

“Bahkan, tidak sedikit yang setiap waktu di hari-harinya tidak lepas dari penggunaan gawai,” kata Ziadatul Hikmiah, Dosen Psikologi Universitas Brawijaya, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 untuk wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Selasa (26/10/2021).

Menurut Ziadatul, internet dan gawai ini bagai pisau bermata dua. “Tergantung bagaimana kita menggunakannya,” katanya.

Dia mengatakan, terdapat beberapa efek buruk yang bisa terjadi jika anak-anak terpapar gawai dalam jangka waktu yang panjang, di antaranya:

  • Cyberbullying

Pengaruh kesehatan mental akibat penggunaan internet dan gawai yang berlebihan pertama adalah cyberbullying. Dalam hal ini, bukan hanya seseorang bisa menjadi korban pembulian yang dilakukan oleh orang lain melalui gawai. Melainkan, internet juga memperbesar risiko seseorang menjadi pelaku pembulian.

  • Adiksi (kecanduan)

Pengaruh kesehatan mental berikutnya yang sangat berpotensi akibat penggunaan gawai dan internet yang berlebihan, adalah kecanduan terhadap berbagai kegiatan yang bisa dilakukan melalui internet dan gawai. Seperti kecanduan games, internet, sosial media dan juga online shopping. Jika hal ini tidak segera disadari dan dibenahi oleh orangtuanya, maka kecanduan-kecanduan tersebut bisa merugikan anak-anak dan orang lain.

  • Gangguan pola makan dan tidur
BACA JUGA:   Agar Tak Kaget Saat Gunakan PayLater

Pengaruh kesehatan mental berikutnya yang jarang disadari oleh banyak orang adalah gangguan pola makan dan tidur akibat berlebihan dalam menggunakan internet dan gawai. Padahal, pola makan tepat waktu dan tidur yang cukup akan menunjang kesehatan mental serta fisik anak. Apalagi, umumnya keseringan menggunakan gawai membuat seseorang malas sekali bergerak (mager).

  • Depresi

Depresi menjadi gangguan atau dampak kesehatan mental berikutnya akibat internet berlebihan. Sebab, hampir segala hal yang ada di internet dan tersaji di gawai yang kita miliki tidak ada filter atau penyaring instan, mana yang anak-anak butuhkan dan tidak dibutuhkan. Mana yang akan mengganggu dan mana yang bermanfaat.

  • Cemas
BACA JUGA:   Kurangnya Kesadaran Beretika di Media Sosial

Rasa cemas juga merupakan gangguan kesehatan mental yang sering dialami siapa saja yang berlebihan dalam menggunakan internet dan gawai, termasuk anak-anak. Rasa cemas akibat penggunaan internet tersebut bisa bersumber dari banyak faktor. Terutama dari informasi yang mereka baca di media sosial. Apalagi, tidak semua media sosial memberikan kabar atau informasi yang benar. Ada saja informasi yang keliru dan diambil begitu saja oleh anak-anak, dan memicu kecemasan personal.

  • Keluhan fisik tanpa latar belakang medis

Berkaitan dengan dampak negatif tidak menjadi diri sendiri, anak-anak mungkin saja selalu melihat sesuatu yang bagus atau baik-baik di media sosial mengenai temannya. Baik itu secara materil maupun fisik temannya yang tampak lebih bagus menurut anak Anda. Ini akan menjadi pemicu anak-anak mengeluhkan kenapa fisiknya tidak “sesempurna” temannya itu. Pemikiran ini bisa terjadi meskipun, fisik anak Anda tidak sedikit pun memiliki kekurangan ataupun tidak ada masalah medis sama sekali. Rasa cemas dan depresi pada anak Anda juga bisa terjadi jika tidak segera diingatkan.

  • Gangguan psikotik
BACA JUGA:   Jalan Masuk Radikalisme Melalui Ruang Digital

Gangguan psikotik adalah kondisi di mana anak-anak akan mengalami kesulitan membedakan kenyataan dan imajinasi. Itu artinya, mereka akan sulit membedakan apa yang harusnya mereka kerjakan di kehidupan nyatanya sehari-hari, dan asik dengan imajinasinya melalui informasi di internet.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).