Buat tak Nyaman Orang Lain di Medsos, UU ITE Menanti

Thursday, 08 July 21 Venue

Manusia memiliki hak untuk berpendapat, berekspresi, dan beropini. Kebebasan berekspresi bukan berarti tanpa aturan. Mengekspresikan pendapat tetap harus menghormati dan menghargai orang lain.

“Apapun yang kita lakukan di media sosial, itu konsekuensinya sama dengan apa yang kita lakukan di masyarakat,” kata Qurroti A’yun, Dosen IAI Syarifuddin Lumajang, dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kota Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (6/7/2021).

Menurutnya, jika ada perilaku kita yang tidak membuat nyaman orang lain, maka bisa dituntut. “Itu juga bisa terjadi di dunia maya. Pada prinsipnya etika di media sosial sama dengan di dunia nyata.”

Dalam penggunaan media digital, kata dia, kita mengenal Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Tanpa disadari, beberapa pasal dalam UU ITE tersebut banyak dilanggar oleh sebagian besar pengguna media sosial. Di antaranya mengenai kesusilaan, muatan perjudian, penghinaan dan pencemaran nama baik, berita hoaks, penyadapan, dan peretasan.

BACA JUGA:   Memanfaatkan Digitalisasi dengan Maksimal

“Hal-hal yang disebutkan tadi harus lebih diperhatikan. Karena sudah diatur oleh hukum dan terkait dengan etika kemasyarakatan. Ketentuan pidananya pun sudah diatur,” tambahnya.

Dengan adanya UU dan aturan, individu harus pintar-pintar untuk memanfaatkan dan bermain media sosial secara sehat. Qurroti memaparkan enam cara bermedia sosial dengan sehat, sebagai berikut:

  • Memahami etika bermedia sosial, etika ini berlandaskan nilai-nilai kejujuran, penghargaan, kesantunan, dan saling menghargai satu sama lain.
  • Mengembangkan sikap kritis dan peduli, dengan tidak memposting sesuatu tanpa mengevaluasi isinya terlebih dahulu. Peduli dengan perasaan orang lain saat membaca postingan kita di media sosial. Apakah akan berdampak buruk.
  • Menghormati orang lain, dengan menyampaikan pendapat dalam cara yang tidak merugikan orang lain. Selain itu, tidak berkomentar yang mengarah pada ujaran kebencian dan cyber bullying.
  • Periksa materi yang akan dibagikan di media sosial, dengan memikirkan kembali konten yang akan dibagikan kepada publik. Konten yang diunggah diharuskan bermanfaat dan tidak membawa dampak negatif di media sosial.
  • Menjadikan media sosial untuk personal branding, media sosial dapat menunjukkan karakter kita secara detail dan mendalam. Karakter kita tergambarkan melalui unggahan-unggahan tersebut. Maka dari itu, bangun personal branding yang baik mengenai diri sendiri.
  • Menjadikan media sosial sebagai sarana pengembangan diri. Umumnya media sosial digunakan untuk berinteraksi. Untuk mengembangkan diri, kita dapat mencari lingkaran pertemanan yang baik dan positif.
BACA JUGA:   Strategi Membuat Konten untuk Pekerjaan Baru di Era Digital

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).