Pembelajaran Jarak Jauh, Tantangan dan Peluang

Sunday, 17 October 21 Venue

Sebagai pelaku kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh, banyak tantangan yang dihadapi baik oleh guru dan siswa. Mereka mengeluhkan pembelajaran menjadi tidak efektif karena jaringan internet yang tidak merata dan stabil.

“Apalagi guru dan siswa yang berada di dataran rendah, mereka harus pergi ke dataran tinggi seperti bukit dan pegunungan agar mendapatkan sinyal internet,” kata Diah Renata Anggraeni, Associate Faculty Member Binus University, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (15/10/2021).

Bahkan, lanjutnya, ada siswa yang belajar di atas pohon, di kebun dan di hutan. Dalam pembelajaran jarak jauh diperlukan media untuk menyampaikan materi pembelajaran.

“Guru harus dapat mengoperasikan handphone dan laptop dengan baik, tetapi ada sebagian guru yang belum mahir sehingga merasa terpaksa dan stres ketika harus mengajar menggunakan hal yang baru dikarenakan sudah terbiasa dengan sistem yang lama seperti hanya membawa buku pelajaran, absen, lembar kerja peserta didik ke dalam kelas,” ujar Diah.

BACA JUGA:   Memaksimalkan Follower Di Media Sosial

Selain itu, kata Diah, jika pembelajaran tidak dikemas dengan menarik maka siswa akan merasa jenuh. Dapat dibayangkan siswa harus belajar dengan menghadap laptop selama 8 jam per hari.

“Siswa hanya mampu mempertahankan konsentrasinya hanya 30 menit, waktu yang tersisa akan terbuang begitu saja. Kenapa banyak siswa yang bolos dengan mematikan video saat belajar, karena salah satu alasannya adalah mereka mengalami kejenuhan,” ujar dia.

Untuk siswa yang masih belajar di tingkat TK dan SD, menurut Diah, juga harus didampingi dan diawasi oleh orangtua ketika pembelajaran berlangsung. “Tetapi banyak orangtua yang masih kebingungan menggunakan handphone dan laptop, mereka masih bingung bagaimana cara mengoperasikan fitur-fitur yang ada dalam handphone dan laptop seperti menggunakan WhatsApp, Telegram, Zoom, Google Meet dan lain sebagainya,” tuturnya.

Banyak orangtua mengeluh dan tidak sanggup menemani anaknya belajar karena gagap teknologi di tambah dengan kurangnya daya tangkap anak dalam memahami materi. Orangtua menjadi tertekan atau stress dan akhirnya memarahi anaknya.

BACA JUGA:   Tips Mencegah Risiko Keamanan di Dunia Maya

“Kita harus menyadari, Pandemi Covid-19 ini, selain memunculkan tantangan, juga memberikan peluang bagi para guru dan siswa. Jika tidak ada pembelajaran jarak jauh, perkembangan internet akan lambat. Sekarang kita dapat merasakan dampak positifnya, jaringan internet sudah kita dapatkan meskipun belum stabil,” ujarnya.

Karena sudah ada jaringan internet, siswa dapat belajar secara mandiri di rumah. Guru dan siswa dapat berkolaborasi dan menjadi kreatif. Misalnya guru dapat membuat metode, tehnik dan inovasi baru agar materi pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik, dan siswa tidak belajar secara monoton. Siswa juga akan menjadi kreatif ketika mendapat tugas dari guru.

Menurutnya, dari pembelajaran yang menarik dan menggunakan teknologi dengan baik, maka siswa akan menjadi ahli membuat video dan mendesain gambar yang nantinya ketika mereka lulus dari Sekolah Menengah Atas, mereka dapat menggunakan keahliannya untuk mendapatkan uang.

BACA JUGA:   Melindungi Diri dari Bahaya Pornografi

“Mereka bekerja tidak harus keluar rumah, tetapi mereka dapat menghasilkan uang meskipun hanya duduk di depan laptop saja,” jelasnya.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).