Cara Pemerintah Menangkal Terorisme, Radikalisme, dan Separatisme

Friday, 17 September 21 Venue

Kemajuan teknologi mengakibatkan terbukanya semua akses informasi, termasuk yang menyangkut terorisme, radikalisme dan separatisme. Untuk menangkal hal tersebut, menurut Moh. Jufri, Founder Gubuk Inggris, ada dua langkah yang dilakukan pemerintah, yaitu mulai dari pemblokiran konten hingga literasi digital kepada masyarakat.

“Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) senantiasa melakukan tindakan pencegahan aksi terorisme di ruang digital. Tercatat sejak Juli 2017 hingga Juli 2020 ada 16.739 konten (di media sosial maupun situs) terkait terorisme yang diblokir,” ujarnya dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Kamis (16/9/2021).

Konten terkait terorisme tersebut, kata dia, tersebar di berbagai platform digital. “Di Facebook ada 11.600 konten, Twitter ada 2.282 konten, situs web ada 496 konten, YouTube ada 678 konten, dan file sharing sekitar 1.000 konten,” ujar dia.

BACA JUGA:   Langkah Sukses Meniti Karier Content Creator

Menurut dia, Kemenkominfo juga telah meminta komitmen platform digital untuk senantiasa turut menindaklanjuti aduan terkait konten terorisme ini. “Terorisme merupakan musuh global, seluruh platform digital berkomitmen mencegah konten terorisme di ruang digital,” kata Jufri.

Dia mengatakan, selain pemblokiran konten, Kemenkominfo juga memiliki program literasi digital dan diseminasi informasi untuk melakukan kampanye terhadap bahaya terorisme di ruang digital. “Dalam setiap program literasi digital yang dilakukan, ada sosialisasi konten-konten terkait bahaya terorisme.”

Menurut Jufri, ruang digital, saat ini telah menjadi media penyebaran paham terorisme karena memiliki jangkauan yang sangat luas. Dengan semakin meningkatnya penetrasi internet, diharapkan peran aktif masyarakat untuk dapat memantau dan melaporkan apabila menemukan konten-konten terkait terorisme ke alamat email: aduankonten@kominfo.go.id atau aduankonten@bnpt.go,id.

“Masyarakat harus berperan aktif, karena kami hanya bisa melakukan crawling konten negatif pada ruang publik, tidak bisa masuk ke ranah privat,” kata Jufri.

BACA JUGA:   Masyarakat Digital, Kemayaan, dan Kegagapan

Dia pun mengajak generasi muda untuk memenuhi ruang digital dengan konten-konten positif. “Mari kita tunjukan rasa cinta kepada tanah air dengan senantiasa memenuhi ruang digital dengan konten positif,” kata Jufri.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Bisnis Online Untuk Pemula, Begini Caranya

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).