Gejala Kecanduan Internet Yang Harus Dihindari

Saturday, 19 June 21 Venue

Jika bicara tentang dunia digital yang terus digunakan sehari-hari secara masif, tentunya akan banyak hal negatif yang muncul. Salah satunya adalah kecanduan internet. Biasanya orang tidak sadar telah kecanduan atau bahkan menyangkalnya dan merasa sebagai hal yang biasa saja.

Nur Holifatuz Zahro, M.Pd., Kepala UPT Perpustakaan Universitas Abdurachman Saleh Situbondo, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Selasa (15/6/2021) mengatakan, budaya tata muka telah berubah jadi budaya digital. Maka penting untuk memastikan bahwa kita berbicara satu sama lain dengan cara yang menyembuhkan, bukan dengan cara melukai.

Ia mengungkapkan, kecanduan terdiri dari tiga level. Level paling bawah adalah kemampuan mengontrol psikologi dan fisik yang menyebabkan disfungsi sistem otak untuk merespons sesuatu, menjadikannya bergantung internet dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA:   Pilihan Investasi Bagi Milenial

Kedua, kondisi yang membuat seseorang kehilangan kontrol terhadap suatu hal. Biasanya merujuk pada rasa yang terlalu atau didorong keinginan kuat atau kegemaran terhadap suatu hal. Level tertinggi adalah saat tubuh atau pikiran dengan buruknya menginginkan sesuatu agar bekerja dengan baik. Orang dengan kecanduan ini tidak bisa hidup dan melakukan apa-apa tanpa ponsel.

Menurut Kandell adiksi internet sebagai ketergantungan psikologis apapun jenis kegiatannya di internet dalam sekali login atau membuka ponsel. Adiksi internet ditandai dengan keasyikan yang berlebihan atau kurang terkontrol, dorongan atau perilaku mengenai penggunaan komputer dan akses internet yang menyebabkan gangguan atau penderitaan.

BACA JUGA:   Membangun Persona Sebagai Trusted Seller

Ada beberapa gejala kecanduan internet yang bisa dikenali, di antaranya mood modification, yaitu merasa ketakutan hidup tanpa internet akan membosankan, hampa, dan tidak bahagia; Tolerance, yaitu menghabiskan lebih banyak waktu online; Withdrawal – perasaan tidak menyenangkan dan murung ketika sedang tidak online; Conflict / external consequences – konflik yang berkaitan dengan kegiatan tertentu bahkan dengan orang di sekitarnya; Relapse – kecenderungan untuk kembali online atau ketika kecanduan ingin berhenti tapi tidak berhasil; Craving / anticipation – merasa antisipasi ketika sedang online dan merasa lebih percaya diri di dunia maya; Lying / hiding use – menyembunyikan bahwa sedang online; dan Salience – merasa sedang online ketika offline.

Gerakan Literasi Digital Nasional 2021 merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Pornografi Online pada Anak, Ini Dampaknya

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).